Pengamat Sosial: Salah Satu Penyebab Kemunduran Indonesia Adalah Melupakan Soeharto


Pengamat sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sutirman Eka Ardhana. Foto: A. Mustaqim

YOGYAKARTA - Pemimpin Indonesia ke depan diharapkan bisa mencontoh keberhasilan pembangunan jaman Orde Baru (Orba) di bawah kepemimpinan Presiden RI ke 2, Soeharto. Bahkan kalangan pengamat sosial ada yang menilai kemunduran yang dialami Indonesia saat ini karena banyak melupakan sejarah, termasuk melupakan keberhasilan Soeharto.

"Dulu (dijaman Orba, red) segala yang hal akan dilakukan untuk memimpin bangsa Indonesia selalu terancang dan terencana. Wujud dari rencana yang selalu dia lalukan ialah program pembangunan lima tahun atau Pelita," ungkap pengamat sosial dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sutirman Eka Ardhana.

Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga ini mengatakan presiden Soeharto adalah pemimpin yang selalu menjalankan pembangunan dengan skala prioritas yang tepat.

"Jadi, presentasi kegagalannya itu kecil, karena sudah ditentukan indikator keberhasilannya," ungkap Sutirman ketika ditemui jogjakartanews.com di kediamannya, Tegalpanggung, Danurejan II No.896, Sabtu (8/3/2014) malam.

Lebih lanjut Sutirman menjelaskan, banyak sekali keberhasilan yang dicapai Soeharto dalam mensejahterakan masyarakat Indonesia. Dengan membuka-buka kembali catatannya, Sutirman mencoba menceritakan langkah jitu yang dilakukan Soeharto. Misalnya, kata Sutirman, dari sisi ekonomi, politik, sosial, hingga budaya.

"Saat kepemimpinan Suharto,  Indonesia mampu mencapai swasembada beras. Faktanya sampai sekarang beras itu kan bahan makanan pokok kita to? Di era kepemimpinannya, Soeharto bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan ketercukupan pangan," kata pria berusia lebih dari setengah abad ini (61 tahun, red).

Selain itu, imbuh Sutirman, Soeharto merupakan pemimpin yang menjunjung tinggi kebudayaan. Hal itu ditunjukkan dengan tata kramanya dalam memimpin, dan berpegang teguh pada filsafat Jawa yang berujung kepada kebijaksanaan.

"Yang jelas Indonesia dulu disegani bangsa yang lain, dan akhir-akhir ini, kita sering ‘dikerdilkan' oleh beberapa negara tetangga. Oleh sebab itu, pemimpin Indonesia ke depan harus mau berkaca pada Soeharto, menjadi pemimpin yang tegas dan berwibawa," harapnya.

Terkait munculnya kembali Soeharto sebagai icon kemakmuran masyarakat yang dinilai menguntungkan Siti Hediati Soeharto sebagai Calon Legislatif (Caleg) DPR RI dari Partai Golongan Karya (Golkar)  nomor urut 1 di Daerah pemilihan DIY ? Sutirman mengatakan hal itu sebagai sesuatu yang wajar. Bagaimanapun orang memang juga akan melihat Ayahnya. Namun demikian Sutirman menilai Putri kedua (Anak ke 4 dari 5 bersaudara, red) dari pemimpin Orba tersebut memiliki misi yang bagus.

"Saya kira malah bagus Titiek Soeharto (sapaan Siti Hediati Soeharto,red), maju (sebagai Caleg, red). Toh tujuannya bagus, ingin mewujudkan cita-cita ayahnya yang belum terwujud. Saya sendiri secara pribadi mendorong dia maju. Harus ada generasi Soeharto untuk meneruskan pembangunan yang positif," pungkasnya. (kim)

Redaktur: Azwar Anas

 


 





Baca Juga