Senin, 24/03/2014 16:33 WIB | Dibaca: 1004 kali

5 Parpol Melanggar Aturan Kampanye, Banyak Libatkan Anak-Anak


Anak-anak Kampanye. Diambil di Jalan Kenari Kota Yogyakarta. Foto: Baharuddin Kamba

YOGYAKARTA- Memasuki hari kesembilan kampanye terbuka pada pemilihan legislatif tahun 2014 ini, masih marak ditemukan partai politik yang melibatkan anak-anak. Hal tersebut mendapat tanggapan beragam dari berbagai kalangan, tidak hanya dari Panitia Pengawas Pemilihan Umum (PANWASLU) tetapi juga dari kalangan ibu rumah tangga yang memiliki anak dibawah umur.

Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum (PANWASLU) Kota Yogyakarta, Agus Triyatno mengatakan, kampanye melibatkan anak-anak di bawah umur, hampir dilakukan semua parpol. Namun dalam catatan KPU yang terbanyak dari 5 Parpol.

"Berdasarkan hasil pemantauan kami dilapangan partai politik yang melibatkan anak-anak pada saat kampanye ada dari PPP, GOLKAR, PDI-P, PKS dan PAN" ujar Agus kepada jogjakartanews.com, Senin (24/3/2041) siang.

Panwaslu Kota Yogyakarta, sambung Agus, hanya dapat memberikan rekomendasi atas temuan-temuan di lapangan tersebut untuk diberikan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Yogyakarta, untuk ditindaklanjuti.

"Kami hanya memberikan rekomendasi atas temuan-temuan di lokasi selanjutnya KPU lah yang memberikan teguran atau sanksi," kata Agus melalui sambungan telepon selulernya.

Pendapat terkait dengan masih banyaknya ditemukan anak-anak yang dilibatkan dalam kampanye juga muncul dari kalangan ibu rumah tangga. Salah satunya ibu Briyan. Dia menilai bahwa dilibatkan anak-anak pada saata kampanye itu kurang pas.

"Anak-anak itu masih emosional bukan rasional berpikirnya" ujarnya kepada jogjakartanews.com saat dimintai tanggapan.

Mamah Briyan, sapaan akrabnya, menambahkan kalau anak-anak ikut kampanye yang salah orangtuanya.

"Kalau orangtuanya mau kampanye ya monggo (silahkan-red) tapi jangan membawa anak-anak" ujar perempuan saat ditemui di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kota Yogyakarta ini pada Senin (24/3/2014) siang.

Dia berujar bahwa resiko keselamatan dan pendidikan secara psikologi kurang baik.

"Seharusnya orangtua memberikan contoh atau pengalaman yang indah bukan malah mengajak kampanye" pintanya. (bhr)

Redaktur:Rudi F

 


 





Baca Juga