Rabu, 03/09/2014 21:33 WIB | Dibaca: 2514 kali

Korban Sumur Kering Aksi Pepe di Depan Hotel Fave


doc.jogjakartanews.com

YOGYAKARTA – Puluhan Warga Miliran, Kusumanegara, Kota Yogyakarta melakukan aksi berjemur diri atau ‘Pepe’ di depan hotel Hotel Fave di Jalan Kusumanegara Yogyakarta, Rabu (03/09/2014). Aksi tersebut sebagai bentuk protes kepada managemen hotel Fave yang ditengarai menyebabkan sumur warga Miliran mengering.

Koordinator Lapangan aksi korban sumur kering Dodo Putra Bangsa mengatakan,  sejak hotel Fave berdiri, banyak sumur milik warga yang mengalami kekeringan. Saat ini kata dia, ada sedikitnya 27 sumur yang kering di Miliran.

“Padahal, sebelumnya meski kemarau panjang sumur warga masih layak konsumsi, sekarang sudah tidak lagi,” tukasnya saat dihubungi usai aksi.

Menurutnya warga sudah meminta pihak hotel untuk  mengembalikan sumber air warga,  dan adanya keterlibatan Pemerintah DIY dan Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mengawasi dan memastikan agar hotel memenuhi tanggung jawabnya.

“Tapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjutnya,” tandasnya.

Dikatakan Dodo, hotel yang beroperasi sejak 2013 lalu itu membuat sumur dengan kedalaman 80 meter. Hal ini yang diindikasikan menyebabkan sumur warga sekitar mengering.

“Pihak hotel sempat memberikan tawaran kompensasi uang dengan total Rp2 juta untuk seluruh warga di RT 13 yang berada tepat di belakang hotel. Tapi kami tolak, karena air sumur yang kami butuhkan,” ungkapnya.

Jika tuntutan warga agar pihak hotel merehabilitasi sumber mata air di sumur, kata dia, maka warga akan menuntut Pemkot Yogyakarta agar menutup izin operasinal hotel Fave.

Sementara Manajer Fave Hotel Yosi Arivianto mengatakan, mengapresiasi aksi yang dilakukan warga sebagai salah satu bentuk kebebasan berpendapat. Pihaknya akan terus melakukan komunikasi dengan masyarakat.

Dikatakan Yosi, pada pertengahan Agustus pihaknya sudah mencoba bermusyawarah dengan warga, namun belum ada titik temu.

Terkait sumur dalam yang diduga menyebabkan kekeringan sumur warga, kata Yosi, sudah dihentikan operasionalnya sejak 21 Agustus lalu

“Dan sumur dalam tersebut juga sudah disegel oleh Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta. Kami memaksimalkan air dari PDAM dan membeli air setiap hari sebanyak 4.000 liter untuk operasional. Saat ini, kami juga akan memenuhi perizinan pemanfaatan air tanah yang memang belum ada,” katanya. (ian/kontributor)

Redaktur: Rudi F

Berita Terkait

 





Baca Juga