Kamis, 06/11/2014 23:13 WIB | Dibaca: 1324 kali

Teror di Rumah Amin Rais Jangan Dijadikan Pengalihan Isu BBM


Foto: doc/jogjakartanews.com

YOGYAKARTA – Kasus teror di rumah mantan ketua MPR RI, Amin Rais, Kamis (06/11/2014) dini hari menggemparkan publik .  Sejumlah media massa menjadikan kasus tersebut sebagai focus pemberitaan dan headline, mengalahkan isu rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh pemerintah yang sempat menjadi  tranding  topic. Bahkan kasus tersebut membuat wakil Presiden Jusuf Kalla yang getol akan menikkan harga BBM, angkat bicara.

Terkait hal itu, Budayawan Wahyu NH Aly mengatakan,  peristiwa penembakan mobil di rumah Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (MPPAN) tersebut  memang perlu diketahui masyarakat agar menjadi pelajaran. Namun, tokoh muda yang akrab disapa Gus Wahyu ini mengingatkan agar jangan sampai kasus tersebut menjadikan masyarakat lupa untuk mengkritisi rencana  kenaikan harga BBM.

“Saya juga mendukung Kepolisian supaya cepat menangkap pelaku dan aktor intelektual di belakangnya. Tapi kasus ini jangan sampai mengalihkan isu rencana kenaikan harga BBM,” kata pengasuh komunitas study budaya dan politik   Lawanggajeng ini kepada jogjakartanews.com, Kamis (06/11/2014).

Dikatakan  Gus Wahyu,   pola pengalihan isu saat pemerintah hendak menaikkan Harga BBM atau saat ada isu sensitif yang relevan dengan kepentingan publik,  seperti kasus skandal  Bank Century  memang kerap terjadi di Era Presiden SBY.

“Isu yang biasanya muncul baik setelah atau sebelum adanya kenaikan BBM adalah isu terorisme, narkoba, konflik  yang berbau SARA (suku, ras, atau agama), dan isu-isu yang berbau entertainment yang mengangkat  privasi artis atau publik figure,” kata tokoh santri dari Pondok Pesantren tertua di Jawa Tengah ‘Alkahfi’, Somalangu, Kebumen Jawa Tengah ini.

Lebih lanjut dikatakan Cucu KH. Abdullah Siradj Aly ini, bagaimanapun kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM tidak populis. Sebab, kata dia, alas an kenaikan harga BBM sama dengan pemerintahan sebelum-sebelumnya yaitu karena menyesuaikan harga minyak dunia atau karena subsidi BBM terlalu membebani keuangan Negara.

“Sementara rakyat yang dijanjikan kompensasi atas kenaikan BBM tidak kunjung meningkat taraf hidupnya. Kemiskinan dan pengangguran masih tinggi, sementara mafia minyak merajalela, impor mobil mewah yang boros BBM semakin banyak. Ini kan sama saja rakyat yang butuh BBM untuk kerja disuruh hemat, sementara  kalangan mampu dibiarkan boros BBM hanya untuk Hobby,”  ujar Gus Wahyu.

Gus Wahyu menandaskan, sudah rumus pasti jika BBM naik, harga kebutuhan pokok naik dan dapat  memicu keterpurukan ekonomi masyarakat.

“Kalau secara ekonomi sudah sulit, efek negatifnya banyak sekali. Diantaranya meningkatnya kriminalitas atau kekerasan seperti yang terjadi di rumah Pak Amin Rais itu. Makanya saya tidak setuju ada kebijakan kenaikan harga BBM,” pungkas Gus Wahyu. (yud)

Redaktur: Rudi F

Berita Terkait

 





Baca Juga