Budaya  

Makna Kraton Yogyakarta Berbeda Jauh Dengan Istana Negara

MESKI Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat kini telah tergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Namun tata kelola pemerintahan masih hidup di kraton, ttak lekang oleh waktu.

Menurut K.P.H. Brongtodiningrat dalam buku arti Kraton Yogyakarta, dalam arti umum bahasa Indonesia Kraton adalah Istana, sebagaimana Istana Negara. Namun menurutnya istana negara bukanlah Kraton. Sebab menurut Brongto Dinigrat dalam bukunya,  Kraton adalah istana yang mengandung arti keagamaan, arti filsafat, dan artii kultural.

“Dan sesungguhnya kraton Yogyakarta itu penuh dengan arti-arti tersebut di Atas. Arsitektur bangunan-bangunannya, letak bangsal-bangsalnya, ukiran-ukirannya, hiasannya, sampai warna gedung-gedungnyapun mempunyai arti. Pohon-pohon yang ditanam di dalamnya bukan sembarang pohon. Semua yang terdapat di sini seakan-akan memberi nasihat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, berlaku sederhana dan tekun, berhati-hati dalam tingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain,” demikian ungkapnya dikutip dari buku yang diterjemahkan bebas oleh Guide Kraton, R. Murdani Hadiatmaja.

Dalam buku yang dikeluarkan oleh Museum Kraton Yogyakarta tersebut juga menegaskan betapa bedanya Kraton dengan Istana Negara yang didiami Presiden kini. Jika istana Presiden hanya sebagai kantor Presiden bertugas untuk urusan duniawi semata, maka Kraton lebih menjadi tempat bagi Raja untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan demi kesejahteraan rakyatnya.

Salah satu buktinya adalah adanya Bangsal Manguntur Tangkil, yaitu bangsal kecil yang terletak di Treteg  Siti Hinggil, jadi bangsal di dalam bangsal. Ini mempunyai arti, bahwa di dalam badan (wadag) kita ada roh atau jiwa. Manguntur Tangkil juga berati tempat yang tinggi untuk anangkil, yaitu menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahwa, di Siti Hinggil juga terdapat singgasana Sri Sultan menunjukkan bahwa seorang Raja yang berkuasa haruslah dekat dengan Tuhan dan Rakyatnya.

Dalam konteks bernegara, terlepas jelas beda antara sistem kerajaan dan sitem kepresidenan, namun secara esensi sama. Apapun itu, keduanya merupakan sibol adanya pemerintahan oleh seorang kepala negara. Istana dan Kraton hanyalah benda mati namun akan bernilai dan menjadi hidup dan memberi kehidupan ketika di dalamnya sang pemimpin dekat dengan Tuhan Yang Maha Kuasa sekaligus dekat dengan rakyat, bekerja untuk kemakmuran bangsa dan negaranya. [*]

Redaktur: Rizal

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com