Jumat, 12/08/2016 19:47 WIB | Dibaca: 1388 kali

Lahan Pertanian Tembakau di Indonesia Terus Berkurang


iluatrasi. doc:ist

YOGYAKARTA –  Hasil penelitian Magister Ekonomika Pembangunan (MEP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang dilakukan selama lima tahun terakhir  sejak 2010 menunjukkan adanya tren penurunan lahan pertanian tembakau di Indonesia. Tahun 2016 ini, lahan pertanian tembakau juga mengalami penurunan cukup drastis.

Peneliti MEP UGM, Dr. Wahyu Widayat, ada banyak indikator kenapa petani tembakau menyusut dari tahun ke tahun. Selain banyak alih fungsi lahan, kata dia, banyak tantangan yang dihadapi petani tembakau. Antara lain, karena  biaya yang dikeluarkan petani tembakau lebih tinggi dibanding dengan menanam tanaman holikultur dan tanaman pangan. Sementara para petani tembakau masih sulit untuk mendapat akses modal seperti pinjaman di Bank.

"Tanaman tembakau juga butuh perawatan khusus, tidak bisa sekali tanam dibiarkan begitu saja tumbuh seperti tanaman pangan. Ada keahlian dan perawatan rutin yang harus dilakukan petani jika menanam tembakau," ujarnya di Universiti Club UGM Yogyakarta, belum lama ini.

 

Dosen Fak Ekonomi UGM ini mengemukakan, MEP melakukan penelitian tentang pertanian dan tata niaga tembakau Indonesia di tiga provinsi, yakni di Jawa Tengah (Kabupaten Temanggung dan Rembang), Jawa Timur (di Probolinggo), dan Nusa Tenggara Barat (di Lombok Timur).

"Tiga provinsi ini dipilih karena total luas lahan area tembakau sebanyak 86.7% dari seluruh luas area tanaman tembakau di Indonesia 192.81 ribu hektar," katanya.

Menurut Wahyu, selain factor modal dan perawatan, di tiga provinsi, pemerintah daerah setempat lebih mendorong untuk meningkatkan tanaman pangan yang sejalan dengan program pemerintah, yakni Kementerian Pertanian untuk kedaulatan pangan. Hal tersebut, kata dia, menimbulkan dilema bagi petani tembakau untuk menggarap lahan sawahnya antara prioritas tanaman pangan atau tembakau.

"Tata niaga tembakau juga sangat kompleks dihadapi petani tembakau. Ada banyak mata rantai perdagangan sehingga keuntungan petani jauh dari harapan. Belum lagi, sentimen negatif misalnya bertaman tembakau tidak menguntungkan," jelasnya.

Wahyu juga menyampaikan hasil produktifitas tembakau di Indonesia kalah jauh dengan negara tetangga, misal dibandingkan beberapa negara se-ASEAN. Menurutnya, produksi tembakau petani Indonesia masih berada dibawah 1 ton perhektar, sementara di negara lain, hasil satu hektar lebih dari 1 ton.

"Hanya di Provinsi NTB mampu menghasilkan 1 ton perhektar. Tapi, hasil itu masih jauh jika dibandingkan dengan negara lain yang menanam tembakau," jelasnya. (dna)

 

Redaktur: Rudi F


 





Baca Juga