Rabu, 27/09/2017 12:56 WIB | Dibaca: 1308 kali

Ketua IKAL DIY, Sugiyanto: Indonesia Dikepung Kekuatan Global


Ketua IKAL DIY, Sugiyanto H. Semangun. Foto: Ja'faruddin.

YOGYAKARTA – Indonesia saat ini mengalami ancaman dari berbagai Negara asing  atau kekuatan global. Hal itu dikatakan Ketua Ikatan Keluarga Alumni Lembaga Ketahanan Nasional (IKAL), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sugiyanto H. Semangun, SE, M.Si.

“Indonesia memiliki Sumber Daya Alam yang luar biasa, sehingga menarik bangsa-bangsa lain di dunia untuk kepentingan nasional negaranya. Saat ini kita benar-benar dikepung banyak kekuatan  yang menginginkan Indonesia tidak kuat agar bisa dieksploitasi,” kata Sugiyanto saat menjadi pembicara dalam workshop Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Video Festival,  di KJ Hotel Yogyakarta, Rabu (27/07/2017).

Tokoh muda Nasional kelahiran Sleman, DIY  ini menegaskan  bahwa salahsatu serangan global adalah terorisme atau radikalisme yang tidak bisa lepas dari kepentingan bangsa  asing. Menurutnya, Negara-negara yang ingin mengeksploitasi Indonesia  tersebut memiliki bermacam-macam ideologi, termasuk yang menumbuhkan paham terorisme.

“Negara-negara itu punya ‘penggemar’ masing-masing yang terus disuport dan dikembangkan di Indonesia. Terorisme  jelas berhubungan dengan jaringan internasional,” tutur Sugiyanto dalam kegiatan yang digelar oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) tersebut.

Namun Sugiyanto menandaskan, sebenarnya ancaman bukan hanya terorisme. Sebab, kata dia, saat ini peperangan fisik antar Negara yang berhadap-hadapan sangat kecil. Baik yang menang maupun yang kalah sama-sama rugi.

“Saat ini perangnya adalah perang  proxy, di mana bukan senjata fisik yang digunakan, namun sangat bahaya. Ini yang membuat kita dipecah belah dan generasi muda seperti adik-adik ini menjadi manja dengan teknologi,” kata Sugiyanto di hadapan peserta dari perwakilan pelajar Sekolah Menengah Atas di Kota Yogyakarta.

Dikatakan tokoh muda nasional lulusan Universitas Indonesia (UI) ini, persoalan pangan dan energi yang menjadi problem bangsa Indonesia juga tidak lepas dari skenario global.

“Tentu sangat ironis, sebagai Negara agraris Indonesia impor beras, bahkan yang terbaru impor garam. Ini sebenarnya juga tidak bisa dipisahkan dari peran Negara-Negara asing yang berkepentingan terhadap Indonesia. Sekarang lahan pertanian berkurang, salah satunya karena dibuat pabrik-pabrik oleh investor asing. Di sisi lain yang makan bertambah, sedangkan anak-anak mudanya  sudah tidak tertarik menjadi petani,” imbuh Aumni London School of Economics and Political Science (LSE), Ingris ini.

Untuk menangkal serangan global tersebut, Sugiyanto menekankan pentingnya kembali kepada jati diri bangsa Indonesia sesuai konsensus (kesepakatan,red) founding fathers (pendiri bangsa).

“Kalau LEMHANNAS itu semboyannya tanhana dharma mangrva, yang artinya tiada kebenaran yang hakiki kecuali kebenaran Tuhan Yang Maha Esa. Namun ada kebenaran yang juga harus diakui, yaitu kebenaran konsesus para founding fathers kita yaitu berpegang teguh dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” tukasnya dalam acara bertajuk 'Di Bawah Sang Merah Putih'.

Menurut Sugiyanto, langkah-langkah penting yang harus dilakukan segenap elemen Bangsa Indonesia yaitu harus menyelesaikan konflik indiologisnya secara mendasar agar bisa mencapai tujuan nasionalnya.

“Sekali lagi, kita harus berkomitmen terhadap konsensus para founding father. Ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, seperti Komunisme dan ideologi lain yang mengajarkan kekerasan, sadisme, dan terorisme tidak boleh diberi tempat di Indonesia,” pungkasnya. (rep)

Redaktur: Ja’faruddin.


 



Terpopuler


Baca Juga