Minggu, 08/10/2017 16:26 WIB | Dibaca: 461 kali

Turonggo Seto Jlapan Pertahankan Kemurnian Jathilan Klasik


Ritual penari jathilan Turangga Seta Jlapan saat kesurupan. Foto: Ja'faruddin AS

SLEMAN- Kesenian jathilan, salah satu warisan budaya leluhur yang sarat dengan atraksi ekstrim, masih populer di kalangan rakyat pedesaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun kesenian yang juga disebut jaran kepang ini sudah banyak mengalami modernisasi baik dari sisi musik maupun tari-tariannya.

Hal itu berbeda dengan Paguyuban Kesenian Jathilan Turangga Seto, Dukuh Jlapan, Desa Pondokrejo, Kecamatan Tempel, Sleman, DIY. Seni jathilan yang dibawakan paguyuban ini masih benar-benar klasik, sebagaimana para leluhur terdahulu memainkannya.

Ketua paguyuban Kesenian Jathilan Turangga Seta Jlapan, Subandi (51) mengatakan di paguyubannya secara turun menurun masih nguri-uri (menjaga, red) jathilan klasik yang hampir punah. Untuk jenis klasik ini, kata dia, dari sisi tabuhan gamelan, tari-tarian hingga kostum masih  mengikuti pakem (aturan baku, red) leluhur.

“Jadi memang lebih sulit dibanding jathilan variasi yang sudah ada sentuhan modernnya. Orang sekali latihan jathilan variasi sudah bisa, tapi kalau klasik perlu latihan khusus. Dalam pementasan klasik ada tarian peran, misalnya penggambaran pertempuran Raden Danang Sutawijaya,” katanya di sela-sela acara pementasan tradisi tahunan setiap bulan Syuro, Minggu (08/10/2016) siang.

Dikatakan  Subandi, selain dari sisi artistiknya, paguyuban Turangga Seta juga masih mempertahankan ritual khusus yaitu jamasan jaran kepang di sebuah sendang (sumber mata air alam) di padukuhan Jlapan. Menurutnya, pentas hari ini adalah rangkaian dari tradisi yang tidak bisa dipisahkan sebagai upaya mempertahankan jathilan klasik.

“Jadi antara ritual tradisi jamasan dan jathilan klasik ini tidak dapat dipisahkan. Jadi kami benar-benar ingin menjaga kemurnian jathilan klasik ini agar tidak punah dan diteruskan generasi muda. Kami bersyukur masyarakat juga mendukung. Acara ini pendanaannya juga semua dari iuran masyarakat,” ucapnnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Pondokrejo, Raharjo mengatakan pemerintah desa mendukung sepenuhnya kegiatan kebudayaan dan kesenian di desanya, terutama seni jathilan.

“Di desa kami ini kesenian tradisional banyak, namun yang paling populer adalah seni jathilan ini. Pemerintah desa sepenuhnya mendukung kesenian ini. Untuk menjaga kesenian agar tetap lestari, kami juga mendorong karang taruna atau kalangan muda agar aktif berpartisipasi. Hal ini juga sebagai upaya mengurangi kegiatan negatif anak-anak muda. Dengan ikut jathilan energi positif mereka tersalurkan,” ucapnya.

Menurutnya, paguyuban jathilan Turangga Seta sudah banyak membawa nama harum desanya. Beberapa kali Turangga Seta tampil dalam event budaya dari tingkat kecamatan, Kabupaten, hingga provinsi.

“Harapan kami ke depan budaya dan kesenian warisan leluhur, terutama jathilan klasik ini tetap dipertahankan. Mudah-mudahan jaran kepang Turangga Seta ini juga semakin banyak tampil dalam pementasan kebudayaan nasional,” harapnya.

Sementara, tokoh pemuda Desa Pondokrejo, Heru mengatakan, jathilan di padukuhan Jlapan sudah menjadi semacam live style (gaya hidup) masyarakat. Menurut inisiator sanggar kesenian Dukuh Jlapan ini, untuk menghidupi kesenian jathilan, masyarakat bergotong royong mengumpulkan dana. Selain itu, menurut Heru, sebagai regenerasi, anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) di padukuhannya juga difasilitasi untuk latihan jathilan rutin sepekan sekali di sanggarnya.

“Antusiasme dan dukungan masyarakat untuk nguri-uri budaya, terutama jathilan di padukuhan kami luar biasa. Dengan modal sosial ini, kami optimistis jika seni jathilan klasik tetap bisa dipertahankan. Namun demikian, kami juga tentu berharap agar pemerintah terus memberikan dukungan. Sebab jathilan bukan hanya milik desa kami tapi milik kita semua, milik masyarakat Yogyakarta dan bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Pantauan jogjakartanews.com, ratusan penonton menjejali arena pementasan seni jathilan Paguyuban Turangga Seta. Tak hanya jathilan klasik yang mempertontontan atraksi-atraksi ekstrim, namun dalam pementasan ditampilkan jathilan variasi dibawakan gadis-gadis dan pemuda, anak-anak, bahkan pemain senior (kalangan lansia, red) yang membawakan tarian warokan.  (rep)

Redaktur: Ja’faruddin. AS


 





Baca Juga