Ini Tentang Lafran Pane, Pahlawan Nasional yang Tak Banyak Diketahui Publik


Hariqo Wibawa Satria, (Penulis Buku ‘Lafran Pane; Jejak Hayat dan Pemikirannya). Foto: ist

YOGYAKARTA – Penganugerahan Gelar Prof. Drs. H. Lafran Pane barangkali bukan sesuatu yang mengejutkan bagi kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Setiap kader HMI pasti mengenal sosok Lafran Pane dan menjadikannya Pahlawan. Meski demikian, sosok bersahaja yang mendedikasikan dirinya untuk ummat dan bangsa tanpa mengharap publisitas ini, belum terlalu banyak dikenal masyarakat sebagaimana tokoh nasional lain yang dianggat menjadi pahlawan nasional.

Siapa Lafran Pane, sang Pahlawan Nasional itu diulas secara rinci oleh Hariqo Wibawa Satria, dalam buku ‘Lafran Pane; Jejak Hayat dan Pemikirannya’ yang ditulisnya. Apa yang diulas Hariqo banyak mengungkapkan siapa Lafran Pane yang tidak banyak diketahui publik. Berikut ulasan singkat namun lengkap yang diulas mantan Pengurus HMI Cabang Yogyakarta ini;

CATATAN SINGKAT TENTANG LAFRAN PANE

Oleh: Hariqo Wibawa Satria, (Penulis Buku ‘Lafran Pane; Jejak Hayat dan Pemikirannya)

1.KELUARGA JURNALIS, SASTRAWAN DAN PEJUANG KEMERDEKAAN.

Lafran Pane lahir 5 Feb 1922, di Kp Pangurabaan, Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Ayahnya, Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang jurnalis, sastrawan, kepala sekolah di HIS, pendiri Muhammadiyah di Sipirok, sangat komplit. Sutan Pangurabaan adalah pendiri dan pemimpin Surat Kabar Sipirok-Pardomuan (terbit 1927), berbahasa Angkola, yang terus menyuarakan kemerdekaan Indonesia, usahanya di bidang penerbitan dan percetakan. Sahat P. Siburian menyebut Sutan Pangurabaan sebagai juragan media cetak pada masa Kolonial. Dua kakak kandung Lafran Pane adalah Sanusi Pane (L: 1905), Armijn Pane (L: 1908), keduanya adalah sastrawan, budayawan yang sangat-sangat produktif (jika anda penggemar sastra, cek saja di internet tentang profil Sanusi Pane dan Armijn Pane, luar biasa). Lafran justru kurang produktif menulis, ia tipikal konsolidator, bidang studi  Lafran juga terbilang serius, yaitu tata negara.

2. SEDERHANA

Bahkan orang yang yang menurut saya sudah sangat sederhana hidupnya seperti Prof.Dr.Dochak Latief mengatakan: Lafran Pane itu sederhana sekali hidupnya. Soal kesederhanaan Lafran Pane ini sudah melegenda. sepertinya faktor didikan keluarga, faktor yogya, dll. Lafran tak punya rumah sampai meninggal. Saya sudah ke rumahnya, ke rumah teman dan murid2nya, ke ruang kerjanya di UNY, ke rumah anaknya di Bintaro dan ke kampungnya di Sipirok, semua jawabannya sama, Lafran sederhana sekali orangnya, Lafran tak punya ambisi politik mau jadi ini dan itu, padahal kesempatan ada dan tawaran tak pernah berhenti.

3.JIWA BELA NEGARA

Berhasil menanamkan semangat bela negara, rasa cinta tanah air, semangat persatuan, kepada salah satu kelompok strategis di masyarakat, yaitu mahasiswa. Itu terlihat dari dua tujuan HMI yang didirikannya: Pertama, mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Jadi kepentingan nasional diatas kepentingan lainnya. Di tahun 45, 50-an, dua tujuan tersebut punya dampak sangat besar, dan saya kira sampai sekarang sangat relevan. Pada Kamis, 13 Agustus 1970, Lafran Pane diundang ke  Pengangsaan Timur 56 Jakarta dalam acara pertemuan pemrakarsa proklamasi Indonesia.

4. INDEPENDEN

Sebagai individu dan maupun HMI sebagai organisasi yang didirikannya mengambil posisi tidak terlibat dalam berbagai polarisasi ideologi yang berkembang setelah kemerdekaan. Lafran Pane dan HMI independen dari berbagai kepentingan kelompok. Kelompok yang dimaksud adalah kelompok yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam, kelompok yang menginginkan Indonesia menjadi negara sosialis, serta kelompok menginginkan Indonesia menjadi negara komunis. Lafran Pane hingga akhir hayatnya adalah dosen, tidak pernah jadi anggota partai politik manapun.

5. KEHADIRAN HMI

Dengan independensinya telah dapat meminimalisir polarisasi antara kelompok nasionalis, sosialis, komunis dan islam di kalangan mahasiswa pascaproklamasi 1945. HMI menjadi wadah baru bagi mahasiswa untuk dapat memupuk rasa kebangsaan sekaligus mempelajari agama Islam. Lafran Pane telah menunjukkan bahwa antara Keislaman dan Keindonesiaan tidaklah bertentangan, akan tetapi merupakan dua hal yang dapat bergandengan tangan untuk mengangkat harkat dan derajat seluruh rakyat Indonesia.

6. DEKAT DENGAN TENTARA

Apakah HMI dekat dengan tantara? iya, Panglima Besar Jenderal Sudirman bahkan pernah bilang “HMI itu Harapan Masyarakat Indonesia” pada HUT Pertama HMI, 5 Februari 1948 di Yogya. Achmad Tirtosudiro, Dahlan Ranuwihardjo itu tentara tapi sepanjang hidupnya mengurusi perkaderan HMI. HMI itu jiwanya sama dengan tentara; NKRI harga mati, rela mati demi mengusir penjajah, anti komunis, mudah tersinggung jika harga diri bangsa diusik. Hanya basisnya HMI di kampus, karena itu perjuangannya lewat berbagai kegiatan ilmiah, bakti sosial, demonstrasi di lapangan, dll.

7. RUMAH BESAR MAHASISWA ISLAM

Dalam rentang 1947 – 1960, HMI menjadi rumah besar bagi seluruh mahasiswa beragama Islam, Islam yang mana?, seluruhnya tanpa ada seleksi; anak NU, Muhammadiyah, islam A, B, C, D, E semuanya masuk di HMI. Syarat masuk HMI itu Cuma dua: MAHASISWA DAN ISLAM. Kenapa mahasiwa?, karena walaupun jumlahnya sedikit, namun ia kelompok strategis, terpelajar dan pemilik masa depan. Kenapa islam?. Karena mayoritas penduduk Indonesia beragama islam. Jadi HMI yang didirikan Lafran Pane ini mengkader yang sedikit (mahasiswa) dari yang banyak (muslim). Tahun 60-an diperkiran lebih dari 1/3 dari total seluruh mahasiswa Indonesia adalah anggota HMI. Pada 70-an, 80-an, 90-an hinga sekarang mereka mewarnai berbagai lini kehidupan. Terlalu banyak nama-nama jika disebutkan. Alumnus HMI pasti nasionalis religius. Di HMI keislaman-keindonesian adalah sebuah kesatuan.

8. JEJARING HMI LUAS SEKALI

Semua organisasi mahasiswa islam pasti ada alumnus HMI atau kader HMI-nya. Misalnya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII, berdiri 17 April 1960) yang kelahirannya dimotori anak-anak muda Nahdlatul Ulama. Ketua Umum pertama PMII justru mantan Pengurus HMI, yaitu Mahbub Junaidi, Mahbub Junaidi bahkan menjadi Ketua Umum PMII selama tiga periode berturut-turut (1960–1961, 1961-1963, 1963-1967). Jutaan anak-anak NU dan Muhammadiyah yang dikader di HMI. Menariknya HMI itu sendiri bukan NU dan bukan Muhammadiyah. HMI itu independen.

9. PENDORONG PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Berdirinya HMI juga mendorong pendidikan agama Islam, berdirinya masjid dan hadirnya kajian-kajian keislaman di kampus-kampus. HMI mengubah citra islam yang “jadul, kolot, tertinggal”. Karena basis utamanya kampus tidak terhitung jumlah alumnus HMI yang pernah menjadi Rektor, Dekan, Dosen dll. Dan karena HMI adalah organisasi luar kampus yang selalu terlibat berbagai isu kemasyarakatan, maka hampir semua partai politik, organisasi kemasyarakatan pernah dipimpin alumnus HMI.

“Demikian sementara, terima kasih, Beji, Depok, 9 November 2017,” tutup Hariqo Wibawa Satria dalam ulasan singkatnya yang diterima redaksi. (kt1)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

 

 


 





Baca Juga