Sabtu, 07/04/2018 17:39 WIB | Dibaca: 505 kali

Padi MSP di Bantul Dipenen Kering


Petani bersama perangkat Desa, SRG, Porin, dan DPP MSP mengawali Panen Padi MSP 14 di Gilangharjo dengan upacara wiwitan. Foto: Bandempo

BANTUL - Demplot atau lahan percobaan tanaman padi MSP 14 dengan pupuk cair organik (PORIN) di Dusun Banjar Waru, Desa Gilanghardjo, Bambanglipuro, Bantul, dipanen, Jumat (06/04/2018) kemarin. Demplot di sawah milik Slamet Dian dengan luas 400 meter tersebut dipanen kering, karena akan digunakan sebagai benih.

Menurut Slamet, panen kering di sawahnya menghasilkan 250 kilo gram (Kg) Gabah Kering Giling (GKG). Atau setara 6,25 ton GKG per hektar. Menurutnya, hasil tersebut sudah cukup bagus, mengingat pada awal masa tanam dulu, ketika masih berumur enam hari, sawahnya tenggelam krn hujan badai selama empat hari berturut itu,

“Padi MSP 14 dengan mengunakan PORIN relative lebih tahan. Dengan perlakuan organic ini, terbukti sawah saya jadi lebih dalam lumpurnya, lembut tanahnya, dan tidak gatal di kulit. Bahkan kemudian di sawah banyak hewan-hewan sawah seperti belut yuyu cacing dan sebagainya, yang menandakan ramah lingkungan,” ujarnya.

Dikatakan slamet, perawatan padi MSP 14 dengan Porin mudah dan gampang serta tidak terserang hama,

“Ngglundung saja cara perawatannya,” imbuhnya.

Petugas Sistem Resi Gudang (SRG) Bantul, Surame yang turut hadir dalam panen mengatakan, setelah melihat hasil panen yang cukup bagus, ia berharap petani MSP di Bantul bisa menyediakan kebutuhan beras organik kepada konsumen atau masyarakat,

“Harapannya bahkan bisa menyediakan gabah serapan kepada Bulog atau tim operasi SERGAP ( serap gabah petani),” Kata Surame yang hadir didampingi petugas SRG, Edi.

Sementara itu, Pengurus DPP MSP, Agus Subagyo mengatakan Padi MSP 14 cocok dikembangkan di Bantul,

“Sudah terbukti dari sifat tanah dan petani cocok, dengan kulturnya MSP sebagai benih padi lokal baru,” tukasnya.

Hasil yang maksimal MSP 14 dengan porin menurut Agus bisa dilihat dari jumlah anakan tiap rumpun yang berjumlah sekira 28  hingga 46, dengan jumlah malay antara 178 hingga 241 bulir. Hasil panen, kata Agus, sebenarnya masih bisa ditingkatkan dengan pengelolaannya yang lebih efektif,

“Namun melihat tiap rumpunnya produktif 95 % karena tiap anakan rumpun tumbuhnya mendekati 100%. Misalnya ditunjukkan anakan sejumlah 28 anakan tumbuh paling tidak 26 anakan. Selain itu ketika padi digiling dan dimasak rasanya pulen, warna putih, bulirnya Panjang dan aromanya harum beras,” tukas Agus.

Yonek Wibowo dari management PORIN menyatakan PORIN bekerja dengan baik di lahan sawah milik Slamet. Dia menjelaskan, dari segi kebutuhan pupuk, dengan luas lahan 400 meter, Slamet hanya membutuhkan 1 botol porin dengan isi 210 mili liter (ml),

“Sejumlah itu digunakan dalam mengolah tanah dicampur dengan kotoran hewan. Nanam tanaman sejak 0 hari di sawah hingga panen 87 hari ini dengan sebotol itu bahkan masih sisa dalam botol. Ini perkembangan dan inovasi baru untuk mengolah beras secara organik. Melihat ini tidak ada bukti bahwa metode organik itu hasil nya menurun dulu baru naik,” ujarnya didampingi Arif yang juga pengembang Porin.

Perangkat Desa Gilanghardjo, Supriyanto, SE mengaungkapkan bahwa demplot MSP merupakan usaha pengembangan ekonomi petani di desa Gilanghardjo,

“Tadi dari pak Slamet sebagai petani hingga pernyataan dari berbagai pihak sangat menyenangkan. Mudah-mudahan tim sergap dan SRG mampu menyerap hasil penen, sehingga menguntungkan petani. Mari dari Gilangharjo ini kita tata produksi beras organic, agar masyarakat konsumen juga menjadi sehat demikian juga dengan petaninya,” pungkas Supri yang memimpin upacara wiwitan sebelum panen. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS

 


 





Baca Juga