Kamis, 05/09/2019 15:58 WIB | Dibaca: 142 kali

Mengembalikan Fungsi Masjid


Lainy Ahsin Ningsih. Foto:doc

Oleh : Lainy Ahsin Ningsih*

Pondasi awal proses perkembangan Islam adalah Masjid. Setelah Hijrah bangunan pertama yang dibangun oleh Rosulullah adalah Masjid. Saat itu masjid memiliki peranan yang sangat penting karena menjadi pusat kegiatan umat serta tempat bersatunya berbagai lapisan. Dengan adanya masjid segala macam aktifitas dapat berjalan dan sangat ramai pada saat itu. Dari masjidlah peradaban Islam lahir dan berkembang.

Pasa masa sekarang sangat diperlukan adanya gerakan pengaktifan, pemakmuran serta pengoptimalan fungsi dan peran masjid dalam berbagai aktivitas dengan management yang baik. Terlepas dari fungsi dan peran utamanya sebagai tempat ibadah, masjid juga dapat difungsikan untuk kepentingan sosial. misalnya, sebagai tempat belajar dan mengajar sebagaimana yang telah ada pada zaman Rosulullah. Dengan adanya peran multi fungsi tidak mengherankan jika masjid menjasi mercusuar umat Islam.

Peran masjid ini tidak lepas dari pembahasan mengenai gerakan memakmurkan masjid. Melalui Pendidikan, generasi yang berkualitas, berintegritas, serta berakhlak baik dapat dicetak. Perlu diingat bahwa generasi penerus adalah aset paling berharga dalam masyarakat. Baik buruknya suatu masyarakat ditentukan oleh pendidikan yang didapatkan.

Dalam bidang pendidikan masjid dijadikan sebagai pusat kajian ilmu serta penerapan karakter umat, terlebih anak-anak. Namun banyak sekali terjadi kasus pengusiran anak yang bermain atau membuat kegaduhan di masjid oleh petugas ta’mir. Anakpun menjadi enggan untuk kembali lagi ke Masjid. Inilah kesalahan yang perlu dibenahi mulai dari sekarang. Tindakan yang seharusnya dilakukan yakni bagaimana anak-anak tetap tertarik untuk pergi ke masjid namun dengan tujuan yang benar serta bermanfaat, bukan justru dengan mengusir.

Kegiatan memakmurkan masjid rasanya akan lebih mudah dijalankan pada saat ini mengingat sekarang sudah memasuki Bulan Ramadhan. Banyak sekali kegiatan yang dapat dijalankaan bersama terlebih saat Bulan Ramadhan. Di antaranya adalah kegiatan Buka bersama, kultum, tadarus, dan yang tidak kalah penting adalaah sholat tarawih. Meskipun hukumnya sunnah, ternyata sholat tarawih begitu diminati oleh umat muslim.

Disamping itu, peran masjid yang tidak kalah penting yang namun mulai terlupakan adalah peran dalam bidang ekonomi. Dalam pengembangan ekonomi, masjid sangat berfungsi dan bermanfaat penting bagi kehidupan sehari-hari, baik manfaat secara individu dan kelompok maupun masyarakat di sekitarnya. Contoh sederhana adalah adanya pembagian ta’jil pada Bulan Ramadhan.

Salah satu contoh masjid yang sukses dalam bidang ekonomi yakni Masjid Jogokarian, Yogyakarta. Jika kebanyakan masjid akan bersaing atau bangga jika memiliki banyak saldo infak,namun tidak dengan masjid ini. setiap kali ada pengumuman jumlah saldo infak pasti tidak pernah tersebutkan bilangan alias selalu 0%. Bukan karena tidak ada yang berinfaq namun saldo yang dimiliki selalu digunakan untuk memakmurkan masyarakat sekitarnya.

Masjid tersebut memiliki 28 devisi yang bekerja. Dengan banyaknya kegiatan yang berjalan di masjid Jogokariyan masjid ini tak pernah sepi. Bahkan Meski di luar Bulan Ramadan, jamaah salatnya selalu ramai. Hal ini menarik banyak perhatian masyarakat muslim, tidak cukup hanya di luar Yogyakarta tapi juga luar negeri seperti Parlemen Eropa yang pernah melakukan study banding kesana. Selain itu, masjid tersebut juga memiliki Website.

Begitulah memang seharusnya kas masjid atau saldo dioptimalkan. Yakni guna menunjang kegiatan yang dapat memberikan perubahan serta pengaruh bagi umat. Masjid juga bisa membuat semacam pertokoan. Selain penghasilan yang bisa masuk kas, pertokoan tersebut juga bisa dijadikan media pembelajaran bagi umat islam, khususnya kaum muda untuk belajar. Dengan begitu akan terlihat management masjid yang baik sehingga banyak pihak yang tertarik untuk mendatangi serta belajar disana.

Kondisi ramainya masjid dari hari pertama sampai hari terakhir bukannya semakin terus bertambah atau mininal sama malah semakin menurun. Perlahan-perlahan jumlah jamaah yang hadir di masjid mulai tumbang dengan sendirinya. Namun, pada malam terakhir Bulan ramadhan masjid akan kembali ramai.

Ramainya masjid kembali pada malam terakhir bulan Ramadhan kebanyakan karena antusiasme jamaah dengan adanya malam takbiran. Pada malam tersebut mereka bersuka ria denga melantukan alunan takbir yang diiringi dengan alunan terbang atau bedug. Tak jarang juga dengan menyalakan petasan atau kembang api sampai pagi menjelang.

Kondisi yang seperti itulah yang harus diubah. Kegiatan memakmurkan masjid pada Bulan Ramadhan bukan berarti hanya berlaku pada Bulan Ramadhan saja. Melainkan terus menerus sampai bulan-bulan berikutnya. Kegiatan-kegitan memakmurkan masjid yang menunjang pada bidang pendidikan serta ekonomi harus terus dipertahankan. Tentunya apapun bentuk kegiatan akan dikatakan berhasil apabila dapat dijalankan dengan istiqomah.

Pendidikan yang dicanangkan lewat media masjid harus bisa mengubah paradigm masyarakat yang hanya meramaikan masjid di bulan Ramadhan saja. Oleh sebab itu, kegiatan yang di jalankan harus bisa menarik simpati dan memotovasi agar masjid terus bisa dihidupkan. Sedikit demi sedikit harus ada kegiatan yang mendorong masyarakat agar fungsi serta peran masjid tidak luntur secara perlahan.

Mungkin lebih penting lagi, yakni dapat membangun masyarakat yang berperadaban dan sejahtera sehingga mampu memberdayakan, mencerahkan dan membebaskan masyarakat dari berbagai macam keterbelakangan. Melalui masjid, kaderisasi generasi muda dapat dijalankan dengan proses yang bersifat continue guna pencapaian kemajuan. Melalui masjid pula nilai-nilai yang menjadi kebudayaan masyarakat Islam dapat dipertahankan. Kegiatan yang dapat memunjang kualitas generasi muda di maasjid harus terus digalangkan. Dengan management yang baik maka regenarasi dari berbagai masa akan mengalami kemajuan dan terus mempersiapkan generasi terbaik bagi umat Islam. Wallahu a’lamu bi ash-showab. (*)

* Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Ilmu Falak Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo Semarang

 

 

Berita Terkait

 





Baca Juga