Hadapi Revolusi Industri, Fakultas Farmasi UGM Siapkan Apoteker Handal


Laporan Tahunan Dekan 2019 dalam Rapat Senat Terbuka, peringatan Dies Natalis Natalis ke-73 Fakultas Farmasi UGM.Foto:ist

YOGYAKARTA - Fakultas Farmasi UGM berkomitmen untuk meningkatkan kualitas dan peran apoteker ditengah era revolusi industri 4.0. 

Dekan Fakultas Farmasi UGM, Prof.Agung Endro Nugroho,Ph.D.,Apt., mengatakan ada tiga kompetensi atau literasi baru menghadapi revolusi industri 4.0 yakni literasi manusia, literasi teknologi, dan literasi data.

"Terkait literasi manusia, Fakultas Farmasi UGM melakukan pendekatan dengan melakikan reorientasi kurikulum berbasis penguatan softskills,"jelasnya saat menyampaikan Laporan Tahunan Dekan 2019 dalam  Rapat Senat Terbuka dalam peringatan Dies Natalis Natalis ke-73 Fakultas Farmasi UGM, Rabu (02/10/2019).

Sementara literasi teknologi dilakukan dengan memahami cara dan aplikasi teknologi. Sedangkan literasi data dilakukan dengan peningkatan kemampuan membaca, analisis, dan menggunakan informasi di dunia digital. 

Dia menyebutkan bahwa Fakultas Farmasi beserta universitas secara bertahap melakukan pendekatan dengan meningkatkan pelayanan akademik dan administrasi berbasis teknologi informasi dan big data. Hal tersebut diimplementasikan dalam pengembangan ruang multimedia dan  optimalisasi sistem informasi pada layanan akademik. Selain itu juga layanan administrasi berbasis teknologi informasi.

"Fakultas Farmasi UGM akan selalu terus dan terus mengembangkan diri melalui tiga literasi tersebut guna mengikuti tantangan di era revolusi industri 4.0 ini," ungkapnya dikutip dalam keterangan pers yang diterima redaksi.

Dalam kesempatan itu dia juga melaporkan kegiatan tri dharma perguruan tinggi. Di bidang akademik, lima prodi Fakultas Farmasi telah terakreditasi dengan rincian prodi S1, S2, dan S3 mendapat akreditasi A dari BAN PT serta prodi profesi apoteker, prodi Magister Farmasi Klinik memperoleh akreditasi A dari LAM PTKes.

Guna menyiapkan mahasiswa menghadapi revolusi industri, Fakultas Farmsi telah melakukan pembaruan kurikulum. Setelah memberlakukan kurikulum 2017 yang berprinsip Outcome Based Education (OBE) yang mengintegrasikan kegiatan ekstrakurikuler, peningkatan softskills mahasiswa serta pendidikan interprofesional prodi S1, Agung menyebutkan pada tahun 2019 semua prodi fakultasnya telah mulai menerapkan OBE pada sistem pembelajarannya. Selain itu saat ini pihaknya juga tengah menyiapkan menghadapi akreditasi internasional ASIIN untuk prodi S1 dan Magister Farmasi Klinik.

Sementara dalam bidang penelitian, Fakultas Farmasi berhasil menyerap dana penelitian di tahun 2019 hingga RP. 10 miliar. Selain itu, jurnal yang dimiliki yakni Indonesian Journal of Pharmacy terindeks Scopus.

“Ini menjadikan jurnal Fakultas Farmasi UGM sebagai jurnal di bidang kefarmasian pertama kali dan satu-satunya di Indoensia yang telah terindeks Scopus,” sebutnya.

Tak hanya itu, mjalah Farmasetik juga berhasil terakreditasi nasional kategori Sinta 4. Sehingga secara total Fakultas Farmasi UGM mempunyai empat jurnal yang telah terakreditasi nasional dan salah satunya berhasil terindeks Scopus.

Di akhir laporannya Agung menegaskan bahwa Fakultas Farmasi UGM masih terus dan berkomitmen konsisten mengejar mimpi dan cita-cita yang belum diperoleh.  Dia berharap kedepan Fakultas Farmasi bisa semakin  unggul dan berprestasi serta jaya dalam mengabdikan ilmu dan pengetahuan pada masyarakat dan bangsa.

Dalam kesempatan itu Rektor UGM, Prof.Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU.,  turut menyampaikan harapan terhadap Fakultas Farmasi. Panut berharap Fakultas Farmasi bisa lebih berkontribusi bagi bangsa dan negara. Tak hanya itu, harapannya juga dapat menjadi rujukan bagi Fakultas Farmasi lainnya di Indonesia serta mitra. 

Panut mengungkapkan bahwa saat ini kondisi industri di Indoensia pertumbuhannya berjalan relatif lambat. Terlebih pada industri hilir yang masih sangat tergantung pada impor terutama untuk pemenuhan bahan baku. Hal itu tersebut juga terjadi pada industri obat, dimana mayoritas bahan baku dipenuhi dari impor.

“Hal ini harus jadi perhatian bersama agar siklus industri bisa utuh. Dengan memanfaatkan bahan alam di Indonesia bisa diproses di dalam negeri menjadi umpan industri hilir sehingga produksi bahan baku tidak tergantung impor,” katanya. Dalam hal ini Fakultas Farmasi diharapkan dapat mengambil peran baik melalui kegiatan kegiatan pendidikan maupun penelitian.

Sementara pada kesempatan itu turut disampaikan orasi ilmiah oleh Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan kementrian Kesehatan RI, Dra. Engko Sosialine Magdalene, M.Apt., M.Biomed. Dalam pidatonya dia memaparkan tentang arah dan model pengembangan farmasi Indonesia di era revolusi indutri 4.0. Di tengah kondisi saat ini bidang kefarmasian juga mengalami disrupsi sehingag perlu penerapan smart pharmacy dengan pemanfaatan teknologi infromasi dalam melakukan pelayanan kefarmasian.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperbaiki automatisasi alur kerja, menyediakan informasi yang cepat dan akurat, serta menjamin pemberian obat tepat pasien, obat, dosis, rute, dan waktu. Disamping itu meningkatkan kolaborasi antar tenaga kesehatan dan mengurangi human error pada titik-titik pelayanan melalui clinical desicion support.

Lau bagaimana dalam merespon masa depan? Engko mengatakan bahwa diperlukan komitmen dalam peningkatan dan pengembangan aspek humanitas dan keterampilan digital. Menggali benruk kolaborasi baru dalam ranah peningkatan keterampilan digital serta kolaborasi antara dunia industri, akademisim dan masyarakat dalam mengidentifikasi permintaan dan ketersediaan skill .

“Perguruan tinggi diharapkan juga menyusun kurikulum pendidikan yang memasukan materi terkait human digital skills,” (pr/kt1)

Redaktur: Faisal

 

 


 





Baca Juga