Senin, 29/03/2021 16:29 WIB | Dibaca: 161 kali

Pengawasan Pemilu dan Game Theory


Ketua Bawaslu DIY, Bagus Sarwono. Foto: ist

Oleh: Bagus Sarwono (Ketua Bawaslu DIY)

Kalau Anda jadi pengawas Pemilu, baiknya jangan sampai berjiwa superhero (over confident) lalu akan melakukan pengawasan sendirian dan menutup rapat-rapat akses pengawasan dari pihak lain.

Dalam tulisan sebelumnya pernah diulas bagaimana ruang lingkup dan beban kerja pengawas pemilu itu amat besar. Pengawas pemilu berat, terlalu berat jika Anda mengawasi sendirian. Capek!. Yang berat-berat biar Dilan yang memikulnya. he.. he.. he..

Lalu bagaimana? Mungkin bisa mempertimbangkan dengan mendorong terciptanya ekosistem pengawasan pemilu yang baik.

Salah satu caranya adalah bisa mengadposi dari game theory (teori permainan). Karena Pemilu dan pemilihan kepala daerah tak ubahnya adalah permainan yang pesertanya adalah para Partai Politik (Parpol), Calon Legislatif (caleg) dan Pasangan Calon (paslon). Sebuah permainan 'suci' untuk mendapatkan kekuasaan dan memimpin masyarakat.

Dalam game theory, pengawas itu tidak hanya dibebankan pada wasit tetapi bisa dilakukan juga oleh peserta pertandingan. Setiap peserta sekaligus adalah pengawas bagi peserta lainnya (competitor). Sesama peserta saling mengawasi. Yang melakukan pengawasan akhirnya menjadi banyak, tidak hanya wasit tetapi juga para peserta.

Kalau ekosistem ini diciptakan, maka akan ada kecenderungan pertandingan berlangsung fair. Sesama peserta akan lebih berhati-hati dan mencoba mengikuti rule dari permainan. Karena setiap gerak-geriknya terawasi.

Karena kecurangan (pelanggaran) salah satu peserta dapat mempengaruhi posisi peserta lainnya. Kecurangan itu jika dibiarkan dapat berujung kemenangan dari peserta yang curang itu. Dan itu adalah kemenangan yang tidak fair (adil).

Dalam lomba pacuan kuda misalnya, jika salah satu peserta menendang kuda kompetirornya apalagi mendekati garis finish, maka si penendang itu dapat memperoleh keuntungan dan dapat menjadi pemenang. Kemenangan hasil berbuat curang.

Jika sesama peserta saling mengawasi, maka si peserta pacuan kuda lain yang melihat kejadian pelanggaran itu bisa menyampaikan protes ke wasit. Atau justru dari peserta yang kudanya ditendang tadi yang menyampaikan protes ke wasit. Idealnya wasit merespon dengan melihat fakta dan dapat menggugurkan si pemenang.

Dengan demikian, mengadopsi game theory dalam pengawasan pemilu dapat menciptakan iklim saling mengawasi antar peserta. Dan ini disamping lebih meringankan beban pengawasan juga dapat mendorong agar pertandingan berlangsung berangsung secara fair.

Dan ingat pertandingan yang fair kecenderungan akan lebih menarik dilihat dan dinikmati oleh semua kubu, karena para peserta dapat belajar dari kemenangan dan kekalahan di periode ini.

Dengan mengadopsi game theory dalam pengawasan pemilu, kemenangan pemilu bukan sebuah kemenangan yang curang, tapi kemenangan yang sepantasnya didapatkan.

Kalah terhormat menang bermartabat!. (*)

Note: Tulisan ini diilhami dari materi Kupas Pemilu Edisi Perdana Bawaslu DIY yang disampaikan Dr. Abdul Gaffar Karim. 

 


 





Baca Juga