Peruri Beri Klarifikasi Soal Mesin Cetak Uang yang Dianggap Bermasalah dan Ganggu Rupiah

YOGYAKARTA – Perusahaan Umum (Perum) Peruri sebagai perusahaan percetakan uang rupiah memberikan klarifikasi terkait mesin pencetak uang yang disebut-sebut rusak dan ganggu peredaran uang rupiah. Head of Corporate Transformation & Communication Peruri, Eddy Kurnia mengatakan tidak benar jika mesin pencetak uang di Peruri rusak, apalagi sampai mengganggu peredaran uang rupiah. Menurutnya, mesin saat ini dalam kondisi prima, dan perusahaannya tengah bekerja tanpa henti dan tengah dalam produksi yang tinggi-tingginya.

“Gangguan teknis kecil, seperti juga mesin pada umumnya semuanya bisa diatasi dengan baik sebagai bagian dari pemeliharaan. Sekarang mesin di dalam kondisi prima. Di dalam waktu dekat, kami akan mengundang rekan-rekan media untuk melakukan media visit ke kawasan produksi Peruri di Karanwang,” kata Eddy sebagaimana dalam rilis resmi Peruri. Hal itu, sebagai tanggapan atas pernyataan pengamat dari Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Widodo Tri Sektianto yang mengatakan mesin pencetak uang Peruri bermasalah dan ganggu peredaran uang rupiah (lihat berita disini)

Lebih lanjut ia juga mengatakan Peruri tidak ada kaitannya dengan kebijakan peredaran uang di Indonesia. Peruri hanyalah dapur produksi yang bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI), sedangkan hubungan Peruri dan BI menurut Eddy saat ini berjalan dengan sangat baik. Perusahaannya senantiasa menjalankan kewajiban dengan sangat sungguh-sungguh. “Kami tidak berwenang memberikan komentar soal uang yang beredar. Tugas kami mencetak uang dan sudah dijalankan dengan baik,” lanjut Eddy.

“Jadi tolong bantu kami beri kesempatan bekerja untuk negara dengan sebaik-baiknya. Saya pikir komitmen kita sama, mengabdi pada negeri tercinta ini,” pintanya. “Semua proses yang dilakukan Peruri sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Kami menjalankan perusahaan ini dengan prinsip kehati-hatian yang tinggi dan selalu mencari yang terbaik untuk negara,” tutupnya. (pr)

Redaktur: Herman W.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.