Bias Kak Langga

Oleh: Fitria Fadilah Anggarini

 

  Gerimis kala itu…

  Gambaran mendung kecewa hati ini

  Melepas sanubari jiwaku

  Pelangi yang lukiskan arti rasa

  Merengkuh asa yang hilang dicerca waktu

  Membawa pedih sesalku…

 

Ketidakberdayaan ibu selepas dari jeruji pengkhianatan ayah, sungguh tak terperi. Aku bahkan berulang kali menghujamkan kata-kata bak timah panas menusuk-nusuk relung hati ayah. Tiada kuasa lagi, ibu jatuh pingsan menahan berjuta emosi dan rasa sakit yang mendalam. Tak ada yang menyangka, ayahku telah sekejam itu mengkhianati arti cinta mendalam ibu. Menghamili perempuan lain, yang pada akhirnya…Keluargaku hancur.

Di balik rasa sakit yang mencurah darah segar tak kasat mata dalam batin Ibu. Ibu selalu bersemangat menghidupi aku dan kakakku Erlangga. Terkadang, kulihat sorotan mata Ibu kosong, di kala senja tiba. Tak lagi ada ayah… dan kini, kak Langga sering ugal-ugalan, pulang larut malam, berganti pacar setiap hari, dan berubah tak tahu diri. Tersiar kabar dari teman-teman kak Langga, bahwa kakak lelakiku satu-satunya, sudah tiga minggu terakhir ini, tak masuk kuliah. Sering kulihat pula, hampir setiap hari kakak berganti pacar. Pernah pula aku tahu, puluhan SMS teman wanitanya yang berhujat marah karena kakakku playboy.

Rasanya, kakak tidak meringankan beban ibu, tetapi justru menambah ringkih tanggungan beban ibu. Ibu sakit. Kak Langga pergi dari rumah tanpa pamit. Aku kalut, mengurusi ibu sendirian. Aku kembali melihat tatapan penuh arti dari ibu saat memandang foto keluarga yang terpampang gagah di ruang tengah. Kami masih berempat dalam foto indah itu. Sejak saat itu, aku benci lelaki. Semua lelaki yang aku cinta adalah pengkhianat. Dan itu membuatku menilai, mereka sama. Tak punya hati.

Siluet jingga mentari, menepis lelahku di senja berhujan ini. Segera aku melepas penat dengan meneguk secangkir mocca, yang biasa ibu siapkan untukku, selepas pulang sekolah. Ibu sangat tahu apa yang kusuka. Mungkin ini bawaan nama yang ibu beri untukku. Decha Fia Meycha, penyuka mocca, selalu merona, meski merana, tetap riang gembira, bersahaja, dan bahagia selamanya. Hahaha…

Seabrek kegiatan sekolah cukup menguras keringatku. Namun, aku sangat menikmati itu. Bergabung dalam OSIS, mengikuti Fisika Club, dan ekstrakurikuler renang. Nyaman rasanya di sekolah. Dan aku sudah cukup tenang, karena ibu sudah terlihat lebih tenang. Bahkan tak pernah sedikitpun menyinggung keadaan Kak Langga. Meski selama ini, aku masih terus mencari Kak Langga.Aku selalu menghubungi kakak, walau hasilnya kosong. Sudah hampir dua tahun, aku hanya hidup berdua dengan ibu. Tapi aku bahagia. Hidupku indah, walau hanya dengan ibu… Pelita hidupku.

Tapi ada satu hal yang menggangguku. Jika teman-teman mengusikku.

  “Fia, nanti malam Minggu ke taman yuk! Aku mau nge’datesama Ricko. Ikutan, yuk! Ricko mau bawa temen cowok buat kamu”, tutur Rana dengan binar matanya. Sahabatku Rana memang selalu begitu.
  “Huft…Ogah ah!Ntar malah jadi obat nyamuk kalian.”

  “Jiiiaaah! ’Kan ada temennya Ricko. Makanya Loe cari cowok donk! Dahgede tahu! DahEs Em A kelas dua.Loe sih sibuk melulu! Kegiataaan melulu! Kali-kali refreshing sama cowok donk! Jangan so jaim sama cowok!”

  “Alah,ogah!”timpalku singkat, melawan kata-kata Rana yang panjang kali lebar kali tinggi sembari meninggalkannya begitu saja. Entah mengapa, aku jadi begitu sulit membuka hati untuk lelaki. Bagiku, mereka sama dengan ayah ataupun kak Langga. Meski aku sadar, tak seharusnya juga aku begitu sensitif dengan lelaki.

Malam pun mengurai pekat hitam. Bintang-gemintang mulai berbinar mewarnai pekat malam nan kelam dan hitam, meski tanpa rembulan. Dengan membunuh takutku, aku nyalakan mesin motor matic-ku ini. Menyusuri jalan berkelok. Aku berhenti seketika, ketika tiga orang lelaki menghentikanku. Mereka menodongku. Aku bingung dan takut. Ku coba beranikan diri untuk melawan mereka. Tapi, mereka menjadi-jadi. Mereka memegangi tanganku erat.Memeluk tubuhku, sambil mendekatkan mulutnya yang beraroma alkohol dekat pipiku. Meraba wajahku. Aku meronta. Dan tiba-tiba aku tahu, ada seorang lelaki menolongku. Ia menghajar tiga orang biadab itu. Dalam samarnya malam, ku tahu salah satu dari tiga penjahat itu mengacungkan pisau tajam ke arah lelaki penyelamat. Lelaki penyelamat itu mengendarai motornya cepat-cepat dengan kecepatan tinggi. Tiga orang penjahat itu mengejarnya, dan meninggalkan aku.Ku dengar dentuman hebat dari suatu arah, sesaat kemudian.Telah terjadi kecelakaan hebat. Tapi…Aku tak sempat mengetahui penyelamat itu. Aku lalu pergi, dengan sedikit traumaku.

Aku lanjutkan perjalananku ini ke tempat tujuanku. Sebuah rumah nyentrik, dengan desain interior yang tertata cantik. Rumah muridku, murid privatku Belinda. Ya…Tiga kali seminggu, aku datangi rumah ini sebagai guru privat fisika. Sekadar untuk menutup biaya pulang-pergi sekolahku, atau sedikit mengurangi beban ibu.Dan selalu kuhabiskan malam Mingguku di rumah Belinda ini.

Malam Minggu kali ini, seperti biasa kuhabiskan dengan mengajari Belinda. Namun, kali ini agak berbeda.Rasanya aku menjadi semakin akrab dengan Belinda. Hingga terbawa pada ceritaku yang belum pernah pacaran.Meski Rana dan Ricko berkali-kali mengenalkanku pada cowok-cowok teman Ricko. Dari Si Kurus Kerempeng,sampai yang menjadi penggemar lollipop. Dari anak band, hingga cowok pesantrenan. Sama sekali tak menarik.
  “Haha!Masa’ Kakak belum pernah pacaran?”
  “Ich, nggak apa-apa! Malah terhindar dari maksiat. Hehe…”
  “Aku kenalin sama kakakku, mau nggak?”
  “Hmm…Boleh. Tapi bukannya kakakmu itu cewek ya? Udah tunangan pula,” jawabku agak heran.
  “Nggak, Kak! Linda punya kakak cowok, satu tahun terakhir ini.”

Kata-kata Belinda agak membuatku bingung, dan aku cukupkan perbincangan kami, karena materi sudah cukup dan larut malam.

Pernah suatu malam. Dalam hening magisnya malam, kala panah-panah gerimis berjatuhansatu-persatu bersamaan dengan jatuhnya rintikan bulir-bulir air mata dari sudut mata teduh yang tak pernah padam untuk bersinar. Ibu menghembuskan nafas munajat doa untuk kak Langga. Bagaimanapun jua, aku pun merasa, bahwa ibu pasti rindu kak Langga. Aku pun begitu.

Perbincanganku dengan Belinda membuahkan hasil. Aku diberi tahu nomor Handphone kakak lelaki Belinda. Kami semakin akrab karena Belinda. Meski aku tak pernah tahu wujud kakak Belinda. Belinda tak pernah mau mengenalkanku langsung. Aneh.

Suatu malam saat aku mengajari Belinda, kudengar suara benda yang terjatuh di kamar sebelah. Sontak, aku dan Belinda bangkit dan ingin tahu. Pembantu Belinda membuka pintu kamar misterius itu sembari mengangkat tubuh tak berdaya. Aku ingin mencoba membantu, tetapi seketika Belinda menarik tanganku. Aku heran dengan tubuh lemas tadi. Siapa dia? Setahuku kamar itu kosong. Ayah dan ibu Belinda pun masih bekerja. Mengapa Belinda tak membiarkanku menolongnya? Mengapa kamar itu gelap? Semua terasa ganjil. Tapi Belinda berusaha menutupi. Ia menangis. Aku semakin tak mengerti, harus bagaimana.

  “Linda, kamu kenapa?Kok nangis? Apa kakak salah,?” tanyaku mencoba memecah rasa heran yang berkecamuk.
  “Dia…ka…kak…ku…Kak!” jawab Belinda terbata.
  “Kakak laki-laki yang kamu kenalin ke aku itu?”
  “Ia, Kak. Dia lumpuh karena kecelakaan. Makanya aku nggak mau ngenalin langsung ke Kak Fia. Aku takut Kak Fia nggak suka. Walau kakakku ganteng juga sih…Hehe,” Belinda manyun dan mengusap air matanya.
  “Ya ampun…Ayolah, Lin…Kak Fia penasaran pengen ketemu!”
Belinda hanya mengedipkan mata dan berpura-pura membuka lembaran buku fisikanya.

Jika sayup2 hangat menggetarkan rasa kalbu’mu…
Dekap ia…Rangkul ia dalam2&perciki ia dgn kasih suci dlm binar cinta ,,
Kau butuh itu. Suatu saat nnti,,akan tiba saat kau mngerti buncahan warna2 pelangi cinta-cinta yg bersatu mjd putih…Cinta yg berbuih menjadi rangka2 alunan merdu music klasik.Mengalun lembut nan indah, membelai’mu…
Tapi bkan aku.Jngan berharap pda’ku, AdikQ Decha Fia Meycha <3
   +6287812727000
   K’My Prience
   3 Jan 2012/20.01

Kubaca pesan singkat dari kakak Belinda. Ketika itu pula, Belinda mengirimkan SMS berisi permohonan, agar aku ke rumahnya sepulang sekolah besok untuk menemui kakak misterius, yang agak mencuri hatiku itu.

~Keesokan harinya~ 

Aku datangi rumah Belinda. Tak biasanya, kulihat, ibu Belinda ada di sana.
  “Kak,mari aku antar ke kamar kakakku!” ajak Belinda.

Aku pun memasuki kamar pengap itu. Tercium aroma obat-obatan di dalamnya. Aku melihat punggung seorang lelaki, yang bertubuh kurus dengan potongan rambut cepak. Terduduk lesu pada kursi roda. Ketika Belinda menyalakan lampu,aku kaget. Aku sangat ingat kaus ungu itu, bertuliskan, ”Erlangga saranghae Fia yeongwonhi.” kaus yang sengaja aku dan kak Langga bahkan buat bersama.

Napasku tercekat, tenggorokanku kaku untuk mengeluarkan kata-kata. Aku bahkan hampir tak sadar diri. Namun, aku mencoba tenang dan perhatikan kembali sosok itu.

  “Fia…Kak Langga rindu kamu! Kesini, Fia… Kakak ingin memelukmu,!” laki-laki tampan itu menuturkan kata-kata. Dan aku memeluknya erat. Hangat rasanya. Aku rindu kak Langga. Bahkan tetesan air hangat mengalir di ujung mataku, membasahi kausnya.Membekaskan lukisan basah rinduku.Aku tak mengerti,mengapa kak Langga jadi begini.

Belinda dan ibunya menjelaskan semua padaku. Kak Langga diadopsi keluarga ini menjadi anak, karena mereka tak punya anak laki-laki. Namun, kak Langga mengalami tabrakan, hingga akhirnya harus lumpuh karena adanya benturan di syaraf motoriknya. Kini, kanker otak stadium akhir, tengah menggerogoti kak Langga. Aku tak kuasa menahan kekecewaanku. Aku kembali menangis dan memeluk erat kak Langga. Ku tak bisa menerima kenyataan ini.

  “Fia…Tolong berikan ini pada ibu! Tapi jangan pernah kau beri tahu ibu, Kak Langga ada di sini. Kakak takut ibu shock melihat kakak.”

Kak Langga menyodorkan cincin pernikahan ibu. Aku tahu, kakak dulu pernah mencurinya. Tapi aku yakin, kakak tak ‘kan mungkin sampai hati untuk membuatnya raib menjadi rupiah.

Mendung. Langit memecah suram kelam hitam. Serasa begitu berat tanggungan awan yang ingin segera memecah tangisan langit. Gerimis tiba. Hari ini, dengan terpaksa aku bawa ibu ke rumah nyentrik itu. Rumah yang detik ini begitu ramai. Dan maafkan aku ibu…Aku membawamu dengan bisu dan tangisku. Banyak diantara mereka berpakaian hitam. Ibu bingung. Beliau melihat sebuah bendera kuning yang tertancap di ranting pohon mangga depan rumah Belinda. Dedaunan mangga serasa ikut layu. Ibu menarik tanganku, dan ia bertanya kepadaku. 

  “Siapa yang meninggal, Nak? Kenapa ibu harus ikut? Kamu kok nangis? Kenapa kamu nggak masuk sekolah aja?”

Rentetan pertanyaan Ibu, dijawab oleh hembusan angin yang menerpa jilbabnya. Aku menarik tangan ibu, dan membawanya melawan orang-orang yang berdesakan. Ibu Belinda keluar, memberiku sekotak dus kecil dengan balutan kertas kado ungu bermotif bunga-bunga melati, terikat pita biru muda yang teruntai terhembus angin di sore yang sendu ini. Ia membawa kami ke ruang pengap itu lagi. Masih pengap. Dan terbujur kaku, jasad seorang pria yang kucinta.Aku membuka kain yang menutupi wajah manisnya.Tanganku kaku,dan tiada daya. Sontak ibu pingsan, ketika tahu itu adalah wajah anak sulungnya.

Ya…kak Langga membias menjadi kenangan. Kak Langga telah pergi untuk selamanya. Dan aku masih menyimpan hadiah terakhir kakak. Bungkusan kotak dus berbalut kertas ungu. Berisi puluhan foto-fotoku. Di sekolah, di rumah Belinda, di taman, ketika aku cemberut, ketika aku murung di dekat mushala sekolah, dan saat aku menenteng piala juara fisika. Aku mengerti…Selama ini Kak Langga selalu menjagaku. Bahkan baru kutahu kini, siapa penyelamatku malam itu. Dia Kak Langga. Kak Langga tabrakkan hebat pun, karena ia ingin menghindar dari tiga orang penjahat yang menjarahiku saat itu. Kak Langga kini harus pergi begitu saja. Maafkan aku, Kak…

  “Aku mencintaimu Kak Langga…!”

Aku berteriak sejadi-jadinya. Mencoba melawan gelegar guntur di hujan sore sendu itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.