Mengenang Buya Syafii Maarif, Sang Pembersih Daki Peradaban

Oleh: Nur Abdillah*

27 Mei 2022 benar-benar menjadi hari duka Yogyakarta bahkan Indonesia. Bertepatan dengan peringatan gempa dahsyat di Yogyakarta 16 tahun silam (27 Mei 2006), kabar duka kembali di dengar hari ini. Sosok guru bangsa, Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif atau yang popular dengan sapaan Buya Syafii Maarif, meninggal dunia.

Kabar meninggalnya mantan Ketum PP Muhammadiyah ini tentu saja membawa duka mendalam tak hanya bagi keluarga, namun juga Bangsa Indonesia. Mengingat Buya Syafii adalah sosok cendekiawan muslim yang sudah banyak berkontribusi kepada bangsa dan negara melalui pemikiran-pemikiran serta gagasan besarnya untuk kemajuan bangsa.

Di kalangan Muhammadiyah Buya Syafii jelas menjadi panutan, meski terkadang ia menimbulkan dinamika di internal Muhammadiyah karena pemikiran dan pandangan-pandangannya terhadap kebhinnekaan dan inklusivitas. Namun justru karena pemikiran-pemikirannya yang sangat humanis itu ia juga dikagumi oleh orang-orang di luar Muhammadiyah, bahkan non muslim.

Selama ini, Buya Syafei memang selalu lantang dalam menyuarakan kritik terhadap praktek diskriminasi dan sektarianisme yang disebutnya sebagai daki peradaban.

Ia menyebut sikap intoleransi dan anti kebhinnekaan adalah Daki Peradaban yang semestinya dibersihkan dari perilaku kehidupan masyarakat Indonesia.

Konsep humanisme Buya Syafii tanpa jubah dan sorban dalam berdialektika dan bergumul dalam konteks Islam, keIndonesiaan, dan kemanusiaan.

Islam yang sesungguhnya adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian. Humanisme Ahmad Syafi’i Ma’arif berlandaskan kepada tauhid, yang memberikan kebebasan, persaudaraan, serta persamaan kepada sesama.

Bagi Ahmad Syafi’i Ma’arif manusia itu memiliki hak dalam menentukan pilihan hidupnya, dan setiap manusia berhak memiliki keadilan untuk menganut agama apapun yang diinginkannya, karena itu adalah hak bagi manusia tanpa adanya paksaan. Menurut Ahmad Syafi’i Ma’arif kemajemukan itu adalah sunnatullah yang mau tidak mau harus diterima sebagai sebuah fitrah.

Humanisme Ahmad Syafi’i Ma’arif sangat menghargai dan menghormati perbedaan-perbedaan tersebut, baik dari aspek keagamaan, suku, ras, budaya, sosial, dan sebagainya. Apalagi dengan kondisi Indonesia yang plural maka disinilah kita sebagai manusia dituntut untuk saling memahami keragaman tanpa lagi harus saling menuding satu sama lain dalam sebuah perbedaan.

Selamat jalan Buya. Indonesia kehilangan sosok Guru Bangsa. Semoga Allah SWT menempatkan Buya di surga, tempat terbaik di sisi Allah SWT. Aamiin. (*)

*Penulis adalah kontributor jogjakartanews.com

Editor: Faisal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.