Mamaknai Hidup dari Filosofi Kopi

Filosofi Kopi
ilustrasi

Oleh: Firman Maulana*

KOPI bukan sekadar minuman untuk menemani saat bersantai. Kopi kini sudah menjadi gaya hidup Sebagian masyarakat. Ya, Kopi bahkan bisa menjadi pelajaran hidup. Begitu banyak filosofi kopi yang tertuang dalam berbagai quote para pesohor untuk mengingatkan tentang hidup dan kehidupan.

Kopi juga menjadi bagian dari Ikon Yogyakarta. Kopi Jos adalah tempat ngopi di Yogyakarta yang menjadi favorit wisatwan. Ada yang bilang, ke Jogja (Yogyakarta) terasa kurang lengkap kalau belum menikmati kopi jos di dekat Stasiun Kereta Api Tugu.

Kenapa minuman dari biji tanaman kopi mendunia, tentu ada banyak jawabannya. Namun, diantara sekian jawaban yang paling umum karena biji dari pohon yang Bernama latin Coffea spp ini bisa diolah menjadi minuman yang sangat lezat. Tak heran jika  sekian abad lamanya, kopi menjadi komoditas perdagangan yang penting di dunia. Sebab hampir semua orang di berbagai belahan bumi ini menyukai kopi, setidaknya mengenalnya.

Dikutip dari Buku The Philosophy of Coffee yang ditulis oleh seorang bloger Inggris Brian Williams, kopi pertama kali ditemukan di Ethiopia, Afrika Timur, dari satu milenium yang lalu atau tepatnya pada abad ke-9.

Penemu Kopi adalah seorang penggembala kambing di Ethiopia, Bernama Khaldi. Dalam perkembangan selanjutnya, Suku Galla di Afrika Timur memanfaatkan kopi sebagai makanan. Bahkan, sampai saat ini pun beberapa daerah di Afrika masih memakan kopi. Mereka membuat makanan dengan cara menghancurkan biji kopi, kemudian ditambah dengan minyak. Lalu, adonan tersebut dibentuk bundar dan langsung dikonsumsi.

Sekitar abad ke-15, bangsa Arab menggunakan kopi sebagai pengganti minuman anggur. Hal ini dilakukan dengan cara menuang air mendidih ke biji kopi yang sudah kering. Inovasi lain yang dilakukan yaitu dengan membuat minuman dari biji kopi yang sudah dipanggang. Proses pemanggangan terbukti membuat cita rasa kopi menjadi lebih enak.

Pada abad ke-17, kenikmatan kopi sudah sampai di daerah Skandinavia, Eropa Utara. Saat itu, ada cerita menarik, di mana Raja Gustav II dari Swedia menjatuhkan hukuman yang unik dan tidak lazim untuk dua saudara kembar. Mereka dituduh bersalah dalam suatu tindak pidana. Untuk menemukan siapa di antara mereka yang bersalah, Raja Gustav II memberikan sebuah aturan.

Salah satu dari mereka hanya diizinkan minum kopi selama hidupnya, sedangkan yang satunya hanya boleh minum teh. Siapa yang meninggal lebih dahulu, maka yang akan dinyatakan bersalah. Pada akhirnya, yang meninggal adalah seorang yang meminum teh, yang meninggal pada usia 83 tahun. Sejak saat itu, masyarakat Swedia dan orang-orang Skandinavia menjadi fanatik terhadap kopi.

Rasa Kopi memang pahit, begitupun ia pernah mengalami sejarah yang pahit pula. Kopi pernah dilarang di beberapa negara, diantaranya Ketika masa jayanya Kesultanan Turki Ustmani pada 1511 Masehi, para pemimpin di Arab Saudi sempat melarang masyarakatnya meminum kopi. Hal ini disebabkan karena kopi yang memberi efek fisiologis. Namun, pada 1524 pelarangan ini dihapuskan oleh Sultan Selim I akibat dari populeritas kopi yang mendunia.

Selain rasa dan sejarah panjangnya, Kopi memang bukan sekadar menjelma sebagai minuman semata. Ada banyak makna dari sebentuk kopi yang di seduh dalam gelas dengan air mendidih. Kopi menjadi kebutuhan bagi banyak orang.

Tak heran jika David Lynch, sutradara terkenal di Amerika  mengatakan.

“Even bad coffee is better than no coffee at all” (Bahkan kopi yang buruk lebih baik daripada tidak ada kopi sama sekali)

Meski hampir seantero bumi mengenal kopi, namun tidak semua orang bisa menikmati rasanya yang pahit. Hal itu seperti gambaran hidup, sebagaimana diungkapkan dalam petuah bijak leluhur tanah jawa yang mengatakan.

“Urip iku koyo kopi, yen ndak iso nikmati rasane panggah pait.”

Artinya, hidup itu laksana secangkir kopi, jika kita tidak bisa menikmatinya, maka yang dirasakan hanyalah kepahitan.

Kopi memang bukan sekadar minuman, ia penuh makna dan filosofi. Begitu banyak pelajaran yang bisa diambil dari secangkir kopi, jika kita benar-benar bisa menikmati dengan setulus hati. (*)

*Penulis adalah pecinta kopi, penggiat forum penulis kata mata pena jogja binaan jogjakartanews.com

57 / 100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.