Menggali Akar Polemik Antara Agama dan Sains

Oleh: Muhammad Labib 

M.Labib

Agama dan Sains seringkali dibenturkan dan menjadi polemik. Lalu seperti apakah korelasi agama dan sains sesuangguhnya?

Zaman pencerahan yang disusul dengan perkembangan sains dan teknologi yang begitu gegap gempita akhirnya mengukuhkan ekstasi ilmu pengetahuan. Metode ilmiah diklaim sebagai satu-satunya metode perolehan pengetahuan yang menjadi entitas yang valid. Metode ilmiah muncul pada (1543-1600 M) yang artinya berumur kurang lebih dari 5 abad, masa ini dikenal dengan istilah “Scientific Revolution”. Menelisik secara garis historis telah munculnya trauma di kalangan inteligensia dan para pemikir humanis terhadap peran negatif lembaga keagamaan yang menyebabkan dari apa saja yang muncul dan menolaknya mentah-mentah, bahkan sampai saat ini.

Histori Polemik Agama dan Sains

Sejarah agama tidak sepenuhnya tentang terang dan putih, di sana banyak ditemukan sejarah yang gelap dan kelam. Umat beragama tidak seluruhnya mampu melaksanakan ajaran agama mereka, banyak kasus mereka dalam kepongahan doktrinal pemahaman keanak-anakan, konflik antar-golongan, serta sikap eksklusivisme, dan ini harus diakui.

Peristiwa kelam ketika gereja berkongsi dengan raja-raja, negara, politik, mereka mempraktikkan agama sangat ekstrim terhadap sains dan menghukum dengan bengis para ilmuwan yang dianggap sudah melenceng dari ajaran, dan ini merupakan salah satu pemicu polemik tersebut. Para ilmuwan pada masa itu akhirnya dendam terhadap gereja dan melakukan pemberontakan terhadap gereja, jadi penyebab polemik ini lebih bersifat historis, sosiologis, hingga politis.Konflik agama yang berkepanjangan menyebabkan beberapa golongan dan oknum yang mencoba melakukan autokritik dan menjalani proses pendewasan (outgrowing).

Motif Polemik Agama dan Sains

            Dawkins seorang biolog dari inggris yang dikenal karena kritik-kritiknya yang keras pada agama merupakan salah satu orang yang mencetuskan konsep Outgrowing  tersebut. Persoalan pada golongan ini hanya satu yaitu, semua pekerjaan teolog besar itu belum mencukupi untuk memenuhi harapan mengenai apa yang mereka sebut outgrowing, bagi mereka hanya ada satu tanda bagi seorang yang telah dewasa: “Ikuti sains, tinggalkan tuhan dan agama, titik. tidak ada diskusi lagi.

Model polemik korelasi agama dan sains sebenarnya merupakan khas dari barat. Sejarahnya sangatlah panjang, ringkasnya orang-orang barat mereka mempunyai trauma kepada agama dan tuhan.  Problema hubungan antara agama dan sains di luar konteks eropa barat jarang terjadi atau bahkan tidak ada. Saintis itu beragama sekaligus bersains atau sebaliknya tidaklah menjadi suatu masalah. Masalah agama dan sains muncul dominan terjadi di dunia barat. Kita yang merasa tidak memiliki dan mewarisi trauma keagamaan semacam itu, sebetulnya tidak masalah. Problemnya adalah karena barat sekarang ini mendominasi dan menjadi referensi sentral di  berbagai bidang dalam peradaban ilmu khususnya sains, maka pandangan barat yang melihat konflik agama dan sains bisa mempengaruhi banyak orang, termasuk lingkungan kita.

Sains mengandung banyak kebenaran, khususnya jika dikaitkan dengan ihwal alam empiris dan pragmatis. Morris Berman pakar sejarah dari Amerika mengungkapkan bahwa lebih dari 99% sejarah umat manusia menggunakan berbagai cara atau metode untuk ilmu pengetahuan dalam mengetahui realitas. Cara perolehan ilmu pengetahuan apakah yang dominan dipakai oleh manusia? Jawabannya adalah cara yang secara general disebut suprarasional, termasuk yang bersifat imajinatif dan mistis. Pendekatan perolehan pengetahuan jenis ini mengindikasikan bahwa hubungan religius antara manusia sebagai subjek. Alam dan selebihnya sebagai objek yang dicirikan dengan kedekatan, kebersatuan interaksi, serta partisipasi di antara unsur-unsurnya. Cara ini mempunyai konsekuensinya yaitu proses dalam mengetahuinya cenderung lebih bersifat ontologis-eksistensial ketimbang epistemologis.

Metode sains lebih baik dari pada agama atau filsafat? Jika ada suatu pernyataan atau pertanyaan seperti ini, mereka harus benar-benar mengetahui terlebih dahulu apa itu sains, agama, dan filsafat. Cara tersebut setidaknya bisa mengkomparasikan masing-masing diantaranya secara Apple to apple, sebaiknya apabila mereka tidak benar-benar mengetahui semuanya cukup membatasi pada apa yang benar-benar diketahuinya saja.

Polemik agama dan sains sangat sering kita temui, salah satunya adalah banyak orang yang mengkritik agama padahal tidak banyak tahu tentang agama. Pemikiran-pemikiran yang berbeda memiliki “Language Game” yang khas dan beberapa orang banyak yang tidak mengetahuinya. Language Game pada intra-agama yang sama saja mempunyai perbedaan, apalagi yang beda agama? terutama antara sains, agama, dan filsafat.

Intelegensi Sebagai Resolusi

Pertumbuhan agama dan sains memperlihatkan kontras yang menarik, selain menunjukkan kesamaan dan di samping perbedan-perbedaan diantara keduanya.  Agama dan sains seharusnya bisa saling mengisi satu sama lain. Alhasil segala sikap kritis dan apresiatif yang kita butuhkan adalah reintegrasi. Reintegrasi ini sama sekali tidak mencampuradukan, melainkan penggabungan jernih senyampang dengan tetap mempertahankan batas-batas ranah yang jelas dari masing-masingnya. Kebenaran-kebenaran yang diperoleh melalui cara yang bisa dipertanggungjawabkan oleh disiplin-disiplin tersebut, sehingga melengkapkan pengetahuan kita dari aspek realitas dan juga kebenaran yang hakiki.

Asumsi secara otomatis bahwa tindakan beriman berarti meninggalkan sains ataupun sebaliknya itu sangatlah keliru, seolah-olah sains dan agama menjadi musuh bebuyutan. Ibnu Rusyd seorang filsuf klasik memandang bahwa wahyu dan akal sebagai dua hal yang saling bertaut yang memiliki hubungan erat. Paradigma ini yang perlu dipakai orang-orang dalam melihat hubungan antara agama dan sains. Iman bukan lawan dari pengetahuan, oleh karena itu jangan dipertentangkan. Sains tidak sepenuhnya bebas dari problema metodologis.Umat manusia akan kehilangan sumber-sumber kebenaran lain terutama terkait dengan hal-hal yang bersifat materialistis, mereka justru lebih memprioritaskan kesejahteraan psikologis dan spiritual jika mengabaikan agama dan filsafat.

Pertanyaan bahwa sains menjelaskan segalanya itu sama  dengan menyatakan bahwa sains sumber semuanya. Agama dan filsafat sama sekali tanpa menafikan sains berusaha melacak lebih jauh kesana dengan cara berbeda, hanya itu saja tetapi sukar sekali mereka membuka diri terhadap ini. Kemana itu sikap ilmiah yang mereka puja-puja? Hal tersebutlah yang menjadi kompleks, di satu sisi kita kewalahan dengan pengikut agama yang mau menang sendiri dan mengkafir-kafirkan sains dan filsafat, tetapi di sisi lain kita dapati ada juga pemuja sains yang menafikan filsafat dan membodoh-bodohi pemikiran agama. Kapan manusia benar-benar dapat bebas dari pada bigot dan ekstremis yang ada di berbagai kalangan ini? Menjustifikasi polemik terhadap agama dan sains sesungguhnya menunjukkan kesempitan pikiran pelakunya.

*Penulis adalah (Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

 

58 / 100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.