Sabtu, 09/11/2013 22:06 WIB | Dibaca: 2412 kali

Kiprah Sanggar Budaya Singlon Lestarikan Gamelan


NGURI-URI: Para penggiat sanggar singlon memainkan gamelan.

KEKHAWATIRAN akan lunturnya minat generasi muda kepada kesenian tradisional dalam era globalisasi ini, mendorong para pecinta kesenian dan budaya untuk semakin menunjukkan konsistensinya. Demikian pula dengan para penggiat sanggar budaya Singlon, di Pengasih, Kulonprogo yang mengangkat gamelan sebagai nilai budaya. Namun, komitman tersebut tak lantas terbatas oleh pakem tertentu. Para penggiat sanggar tetap memaknai gamelan secara luas.

Menurut Ketua Sanggar Budaya Singlon, Joko Mursito, sebagai sebuah sanggar budaya sudah lima tahun berkarya, tepatnya sejak berdirinya sanggar itu, 7 Juni 2008, Singlon terus berusaha untuk terus menjaga kekayaan budaya ragam gamelan agar tetap lestari di tengah masyarakat, terutama kaum muda. Baginya, menjadi suatu keprihatinan tersendiri ketika anak muda semakin terjatuh dalam khasanah budaya popular. Akibatnya, seni gamelanpun kini kian jarang dilirik.

“Konsep besarnya, kami ingin mengembalikan gairah masyarakat terhadap kesenian tradisional kita. Namun, kami juga tetap mencoba agar semua elemen masyarakat bisa memaknainya sendiri dengan penafsiran masing-masing. Baik itu perupa, sastrawan, bahkan anak-anak diharapkan bisa mengeksplorasi dan mengembangkan gamelan menurut tafsirannya sendiri,” bebernya.

Sekarang ini, lanjut Joko, yang paling parah adalah adanya anggapan bahwa gamelan hanya menjadi milik suatu kelompok tertentu. Padahal, menurutnya gamelan bukan hanya milik para pengrawit atau seorang komposer saja. Gamelan juga bisa dieksplorasi oleh siapapun, sesuai dengan jiwa dan kemampuan masing- masing. Pihaknya pun menyadari, jika generasi muda perlu dikenalkan kembali pada gamelan.

“Satu konsep yang juga dituju sanggar Singlon  adalah turut mengemas lokalitas menjadi satu kekhasan. Hal itu diharapkan bisa meramu potensi seni budaya yang ada di Kulonprogo menjadi identitas tersendiri yang bakal menjadi ciri khas,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengaku, pihaknya sangat mengharapkan agar Singlon bisa terus berkembang dan lebih maju lagi. Menurutnya, Singlon sejauh ini sudah banyak memberikan kiprah dan mengharumkan nama Kulonprogo. Karya yang dihasilkan juga tidak kalah dengan berbagai macam pertunjukan besar yang sudah digelar di berbagai daerah lain, misalnya sendra tari Ramayana di Prambanan. Untuk itu, Hasto berharap agar Singlon tidak hanya sekedar menjadi embrio pengembangan seni dan budaya di Kulonprogo.

“Kalau hanya terus jadi embrio, itu tentu tidak bagus. Kita juga harus berpikir, ke depannya mau seperti apa. Saya malah berharap mudah-mudahan Singlon bisa dikembangkan menjadi taman budaya sehingga bisa menghadirkan pertunjukan dnegan skala yang lebih berkualitas,” pungkasnya. (rud)

Redaktur: Azwar Anas


 





Baca Juga