Kamis, 28/11/2019 20:10 WIB | Dibaca: 146 kali

Eksistensi Binatang dalam Perspektif Al Quran


Deta Novitasari Jayanty

Oleh : Deta Novitasari Jayanty*

Indonesia adalah negeri kaya raya akan sumber daya alam seperti tumbuh-tumbuhan, binatang dari berbagai spesies yang hidup di bumi ini. Sudah menjadi tugas manusia untuk menjadi khalifah dimuka bumi ini agar tetap lestari. Namun, didapati bahwa masih saja banyak masyarakat yang memburu binatang termasuk langka sekalipun hanya untuk memuaskan keserakahan semata.

Terdapat data mutakhir yang menunjukan sepertiga dari spesies di dunia terancam punah. Secara konkretnya sekitar 16.928 (38%) spesies terancam punah dari total jumlah 44.383 spesies yang terdata. Spesies yang terancam diantaranya katak dan mamalia. Itulah laporan dari Presiden Badan Konservasi Dunia (IUCN) Valli MOOSA dalam acara kongres empat tahunan konferensi dunia dewasa ini di Barcelona Spanyol.

Perlu adanya pemahaman tentang eksistensi binatang agar kita memiliki kesadaran untuk senantiasa menjaga ekosistem bumi ini. Segala jenis makhluk Allah yang dijelaskan dalam Al-Qur’an ada enam macam yaitu benda mati, tumbuhan, binatang, malaikat, jin dan manusia. Bagimanakah Al-Qur’an memandang fenomenologi tersebut? 

Sesuai dengan firman Allah SWT surah ke 44 Ad-Dukhan ayat 38 sampai 39 yang artinya : “Allah tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” Ayat ini menunjukan bahwa semua penciptaan oleh Allah SWT memiliki tujuan. Bukan hal yang mudah bagi manusia untuk menjawab semua tujuan tersebut terlebih kemampuan nalarnya masih terbatas.

Tetapi Allah SWT mengisyaratkan dalam surah Al-Mulk ayat 3 sampai 4 yang berisikan tentang penciptaan tujuh langit berlapis-lapis dan tidak akan menemukan sesuatu yang cacat serta semua yang ada di bumi dan langit seimbang. Manusia dituntut untuk berfikir pada penciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih yang begitu sempurna dan mencoba mencari kecacatan dalam penciptaan tersebut. Apabila kita lihat semua itu tidak ada kecacatan sama sekali melainkan kesempurnaan yang didapat.

Al-Quran banyak menyebutkan tentang binatang. Terdapat dua istilah yang digunakan dalam Al-Qur’an untuk menyebutkan arti binatang ; an’am dan dabbah.  An’am mengandung makna dasar “keadaan yang baik/enak yang digunakan untuk menunjuk arti “unta” karena binatang ini dianggap oleh masyarakat Arab sebagai makanan yang paling enak. Sedangkan dabbah bermakna dasar “ memiliki gerak yang lebih ringan (halus) dari berjalan” yang digunakan untuk dua makna yakni semua penyebutan hewan dan mencakup hewan dan manusia.

Eksistensi Binatang

Beberapa point penting yang dapat disarikan dari wawasan Al-Qur’an tentang eksistensi binatang. Pertama, Eksistensi binatang sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah SWT

Ayat yang menjelaskan secara langsung adalah surah Al-Jasiyah ayat 4 yang mengatakan bahwa proses penciptaan manusia dan binatang sebagai tanda kekuasaan Allah SWT. Akan tetapi untuk mengapresiasi binatang belum sepenuhnya karena membutuhkan pengetahuan bidang khusus salah satu contohnya bidang biologi yaitu zoology. 

Sebagai contoh penciptaan binatang yaitu ayam, apabila digunakan untuk kepentingan regenerasi saja pasti akan bertelur beberapa. Fatanya ayam mampu bertelur secara produktif menghasilkan ratusan sel telur. Inilah bukti kekuasaan Allah SWT. Kedua, binatang adalah bagian dari umat seperti manusia.

Persamaan aneka binatang dengan manusia seperti yang disebutkan dalam surah Al-An’am ayat 38 yaitu dalam bidang tertentu dan tidak seluruhnya. Misalnya, binatang memiliki insting, naluri seksual bahkan juga hierarki kepemimpinan yang terdapat dalam semut dan lebah. Ketiga, binatang bertasbih memuji Allah SWT. Dijelaskan dalam surah An-Nur ayat 41. Tentang bagaimana cara alam dan binatang bertasbih menjadi perdebatan dalam perbincangan kalangan mufasir. Ada yang memahami sebagai sifat majazi yaitu cara mereka bertasbih berupa kepatuhan mengikuti hokum Allah.

Keempat, binatang sebagai bagian dari kesenangan dunia. Ayat yang menjelaskan adalah sutah Ali-Imran ayat 14 bahwa bagian dari kesenangan hidup di dunia seperti halnya bentuk kesenangan hidup dunia lainnya. Binatang ternak menjadi symbol kekayaan dan cara pemanfaatannya pun bermacam-macam. Kelima, binatang sebagai perumpamaan yang buruk bagi manusia.Terdapat dalam surah Al A’raf ayat 179 yang menjelaskan bahwa mempersamakan manusia dengan binatang sebagai pencitraan negative bagi manusia yang lalai.

Binatang memiliki indera seperti manusia seperti mata, teling dan hati tapi tidak mampu membedakan mana yang baik dan salah. Begitupun perumpamaan manusia yang lalai dari petunjuk Allah SWT. Keenam, binatang yang dikaitkan dengan pemanfaatannya oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya semua binatang halal dikonsumsi kecuali yang haram, hal ini dijelaskan dalam surah Al-Maidah ayat 1. Serta binatang yang halal salah satu kegunaanya adalah untuk berkurban selaras dengan perintah Allah yang dijelaskan dalam surah Al-Hajj ayat 34. Kita diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban atas rezeki yang dikaruniai Allah SWT sebagai tanda syukur dan nikmat. Terakhir beberapa jenis binatang dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut kurang dari 21 jenis binatang yang disebutkan, dintaranya sebagai berikut yaitu semut, lebah, laba-laba, lalat, nyamuk, unta, belalang, laron, rayap, katak, sejenis burung puyuh, kuda, keledai/himar, binatang ternak, anjing, babi, ikan besar, gagak, burung (umum), kera dan burung hud-hud. Berbagai macam bentuk dan jenis binatang telah Allah SWT ciptakan untuk kita berfikir tentang alam semesta dan seisinya.

Semua yang Allah SWT kehendaki pasti ada hikmah untuk kita bisa  diambil dalam penciptaan binatang. Sebagian ada yang diketahui oleh manusia dan sebagian lagi masih menjadi misteri. Tugas dan tanggungjawab kita sebagai khalifah dimuka bumi tidaklah mudahmembalikkan telapak tangan. Untuk itu, sikap yang perlu dilakukan adalah tetap meyakini bahwa apa yang diciptakan oleh Allah tidak akan ada yang sia-sia dan tugas kita untuk menjaga dan melestarikannya. (*)

*Penulis adalah Santri Pondok Pesantren Bina Insani Semarang & Mahasiswa Jurusan Psikologi UIN Walisongo

 

 

 

Berita Terkait

 





Baca Juga