Senin, 29/06/2020 09:47 WIB | Dibaca: 638 kali

Syarak Mengata, Adat Memakai


Drs. Mustari, H.Hum. saat muda. Foto:doc/ist

Oleh : Drs. Mustari, H.Hum*

(Bagian-4 Dari Yogya Untuk Dunia: Berguru Tunjuk Ajar Melayu)**

Orang Melayu mendudukkan tunjuk ajar pada tratak yang tinggi dan penting, yakni posisi ketiga setelah al-Quran dan Sunnah Nabi, sebagaimana disebutkan dalam semboyan Melayu:

Adat bersendi syara’//syara’ bersendikan kitabullah.//

Adat terefleksi dalam tunjuk ajar, tunjuk ajar bertopang kepada sunnah, sunnah bersumber dari kitabullah. Posisi tiga serangkai pedoman hidup itulah yang membuat orang Melayu menempatkan tunjuk ajarnya pada letak yang mustahak. Di dalam ungkapan disebutkan:

Apa tanda Melayu jati,// tunjuk ajarnya dipegang mati.//

Apa tanda Melayu amanat,// memegang tunjuk ajar sampai ke lahat.//

Apa tanda Melayu berbudi,// tunjuk ajarnya dijunjung tinggi.//

Apa tanda Melayu bertuah,// terhadap tunjuk ajar tiada lengah.//

Apa tanda Melayu budiman.// tunjuk ajar dijadikan pakaian.//

Apa tanda Melayu berakal,// tunjuk ajar dijadikan bekal.//

Apa tanda Melayu terpilih,// memegang tunjuk ajar tiada beralih.//

Apa tanda Melayu amanah,// menjaga tunjuk ajar mau dilepah.//

Apa tanda Melayu terbilang,// kepada tunjuk ajar ia berpegang.//

Apa tanda Melayu beriman,// tunjuk ajar menjadi pegangan.//

Apa tanda Melayu beradat,// tunjuk ajar dipegang erat.//

Apa tanda Melayu terpuji,// tunjuk ajar dijunjung tinggi.//

Ungkapan-ungkapan di atas memperlihatkan betapa penting dan tingginya letak tunjuk ajar dalam kehidupan orang Melayu. Acuan ini menjadikan orang tua-tua Melayu selalu mengingatkan anggota masyarakatnya agar mempelajari, memahami, dan mempraktekkan tunjuk ajarnya sesempurna mungkin agar tidak sesat dalam hidupnya. Dalam ungkapan disebutkan:

Kalau duduk, duduk berguru,// kalau tegak, tegak bertanya,// kalau pergi, mencari ilmu.//

Terlihat betapa orang Melayu sangat peduli terhadap tunjuk ajar, ilmu pengetahuan, dan pengalaman yang bermanfaat bagi kehidupan mereka. Dalam ungkapan lain disebutkan:

Bersua ulama’ minta petuah,// bersua guru minta ilmu,// bersua raja minta daulat,// bersua hulubalang minta kuat,// bersua orang tua minta nasehat.//

Posisi tunjuk ajar yang ditopang oleh ilmu menyebabkan orang Melayu berusaha sekuat tenaga mempelajari, memahami kemudian mewariskannya ke generasi berikutnya secara turun temurun. Dalam ungkapan disebutkan:

Tunjuk ajar dibesarkan,// petuah amanah dimuliakan,// nasehat amanat diingat-ingat,// supaya tunjuk perpanjangan,// supaya ajaran berkelanjutan,// supaya petuah tidak punah,// supaya amanah tidak  musnah,// supaya nasehat memberi manfaat,// supaya amanat memberi berkat.//

Dapat disimpulkan bahwa tunjuk ajar yang merupakan refleksi dari adat ini, adalah penjabaran dari ajaran sunnah dan kitabullah. Hal ini juga membuktikan bahwa sejak Islam berterima di alam Melayu, sejak itu pulalah orang Melayu menyebatikan identitasnya dengan Islam yang bersumber dari sunnah dan kitabullah. Artinya, adat akan selalu tunduk pada syara’. Jika ada adat yang bertentangan dengan ajaran Islam, adat harus dikalahkan. Maka tepatlah ungkapan Melayu yang mengagtakan, Syara’ mengata, adat memakai.

*Drs. Mustari, H.Hum. Lahir dan besar di Berakit, Pulau Bintan, Dosen mata kuliah Filologi, Metodologi Penelitian Sastra, Bahasa Indonesia, dan Jurnalisitik di Jurusan BSA Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Artikel Bagian 3 bisa disimak pada http://jogjakartanews.com/baca/2020/06/21/6249/ingin-cukup-ajar-amalkan-tunjuk-ajar

**(BERSAMBUNG)

 

 

 

 


 





Baca Juga