Sakkhasukma Foundation Kampanyekan Perdamaian Lintas Agama

YOGYAKARTA – Isu Suku Ras dan Agama (SARA) kerap menimbulkan konflik antar umat beragama
dan dis integrasi bangsa. Isu SARA juga kerap mencuat saat momentum politik di Indonesia seperti Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pilpres
tahun ini.

“Melihat adanya fenomena yang membahayakan persatuan bangsa itu, kami Sakkhasukma Foundation Yogyakarta berusaha keras untuk mencegahnya. Kami terus mengkampanyekan pentingnya perdamaian demi mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur,” kata ketua Dewan pembina Sakkhasukma Foundation, Drs. Masroer, M.Si, Rabu (25/06/2014) malam.

Menurut Masroer, belum lama ini Sakkhasukma Foundation bekerjasma dengan Produ Komunikasi UII  Yogyakarta mengadakan kegiatan Training of Trainers (ToT) bertajuk “Promosi Perdamaian dan Transformasi Konflik oleh Pemuda Lintas Agama melalui Potensi Kearifan Lokal serta Pemanfaatan Teknologi Informasi
dan Komunikasi” .

Kegiatan tersebut dilaksanakan Jumat-Minggu, 20-22 Juni 2014 lalu di Hotel Taman Eden I Kaliurang, Jl AStomulyo Kaliurang Km. 25 Yogyakarta.

Kegiatan ToT ini, kata Masroer, merupakan rangkaian lanjutan dari kegiatan Joint Council se-jawa yang akan dilakukan di empat provinsi, yaitu Jawa Timur, Jawa
Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat.

“Kegiatan yang berlangusng selama tiga hari ini diikuti oleh 53 Pesrta dari berbagia komnitas agama yang ada di Yogyakarta,
seperti Islam, Hindu, Buddha, Kristen dan Katholik, bahkan komunitas Kejawen,” ungkapnya.

Menurut Direktur Sakkhasulma, Lukman Hakim, kegiatan
ini juga sebagai ajang untuk melatih para pemuda menjadi agen perubahan
dan lokomotif dalam mengerakkan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai
dengan semangat nasionalisme Indonesia. 

“Dengan menggali potensi kearifan lokal DIY sebagai pusatnya kebudayaan
Jawa dengan segala seni dan filsafat hidupnya, pesan-pesan perdamaian agama dapat kita
lakukan melalui  pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi, seperti melalui media sosial, sehingga bisa mendunia,” katanya.

Menurut Mega seorang pemudi Katholik kegiatan ini begitu penting bagi terwujudnya perdamaian agama di DIY, lebih lagi pasca
terjadinya kekerasan atas nama agama.

“Kegiatan ini menaik kesannya karena selama ini wacana tetantang perdamaian
dan transformasi konflik jarang diselenggarakan,” ungkapnya.  (yud)

 

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.