Peneliti UBK: APBNP 2016 Diturunkan, Negara Terancam Bangkrut

JAKARTA – Kebijakan penurunan target pendapatan dan pengeluaran dalam APBNP 2016, mendapat sorotan kalangan pengamat ekonomi. Bahkan, kebijakan pemerintah tersebut dinilai sebagai tanda-tanda kebangkrutan Negara di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wali Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

“Kejadian ini adalah yang pertama kali dalam sejarah penyusunan APBNP, dimana terpaksa diturunkan. Mengapa ? karena target penerimaan Negara baik dari pajak, pendapatan Negara bukan pajak khususnya pendapatan dari bagi hasil minyak turun drastis. Seluruh asumsi penerimaan dalam APBN 2016 tidak tercapai,” ujar Peneliti dari Pusat Kajian Ekonomi Politik Universitas Bung Karno (UBK) dalam keterangan pers yang diterima jogjakartanews.com, Jumat (25/03/2016).

Menurut Salamudin, belum lama ini dalam keterangannya kepada media Wapres JK mengatakan bahwa untuk pertama kalinya anggaran dikurangi dalam penyusunan RAPBNP di tahun 2016,  sehingga semua Kementerian harus siap untuk melakukan penyesuaian diri.

Memperjelas pernyataan JK, kata Salamudin,  Menkeu(Menteri Keuangan) Bambang Brodjonegoro telah mengatakan bahwa pemerintah merevisi target penerimaan pajak 2016 dari semula Rp 1.360,2 triliun menjadi sekitar Rp1.226,94 triliun. Ini adalah penurunan yang cukup besar. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang ditargetkan Rp52 triliun, realisasinya hanya Rp29,6 triliun.

“APBN turun cukup drastis hampir 50 %. Sementara sektor minyak yang selama ini menjadi sector SDA menyumbangkan paling besar tahun ini terpaksa pemerintah nombok karena biaya produksi minyak yang ditanggung Negara melalui cost recovery lebih besar dari nilai penjualan minyak,” ujar Salamudin.

Kalau target APBNP 2016 diturunkan, kata Salamudin,  maka secara otomatis seluruh proyek proyek yang direncanakan pemerintah akan tertunda atau bahasa lainnya mangkrak.

“Padahal pemerintah Jokowi telah merancang berbagai mega proyek yang dijamin dengan APBN dalam tahun 2016. Penurunan target pengeluaran dalam APBNP akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi melemah, pengangguran akan semakin meluas. Siap-siap saja,” tutup Salamudin Daeng. (fan)

Redaktur: Rudi F

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.