Ramadhan 2022 Diantara Minyak Goreng, Pertamax dan Hilal

Oleh: M.Ardhiansyah*

Belum kelar soal Minyak Goreng yang harganya meroket lagi langka, kini kenaikan harga Pertamax. Terlepas Pertamax banyak diidentikkan dengan konsumsi kalangan menengah atas, namun tak sedikit kalangan bawah ketar-ketir. Entah karena dengar analisis para pengkritik pemerintah atau salah denger, tahunya Bensin mau naik harga.

Sepertinya selalu saja ada masalah, bahkan terus-terusan bertambah di negeri yang dalam banyak lagu diibaratkan syurga dunia ini.

Ya, tidak ada satu negarapun yang tidak punya banyak masalah. Jangankan negara, kita sendiri kadang bermasalah dengan diri sendiri. Soal banyak masalah juga macam-macam persepsinya. Ada yang menganggap semakin banyak masalah semakin berkualitas. Argumentasinya meminjam peribahasa semakin tinggi pohon semakin kencang angin menerpanya. Banyak masalah menandakan suatu bangsa akan menjadi bangsa besar. Untung saja masalahnya bukan diinvasi negara lain.

Semakin banyak masalah membuat seseorang semakin kebal dengan masalah. Semakin masalah menumpuk, maka semakin termotivasi untuk membuat banyak solusi pula.

Ada juga yang sebaliknya. Menilai semakin banyak masalah semakin menunjukkan ketidak mampuan. Masalah demi masalah sebelumnya tak dituntaskan muncul masalah baru dan baru lagi. Ibarat sudah jatuh ketimpa tangga dikencingi tikus jatuhnya di atas paku.

Barangkali ada yang berpikir ‘out of the box’ dengan mengatakan sangking banyaknya masalah, lama lama masalah menjadi bukan masalah. Malahan kadang kekurangan masalah. Belum usai soal migor dan pertamax, soal penentuan hari pertama Ramadhan juga disoal. Kalau cuma beda pendapat it’s oke. Masalahnya kalau beda pendapat itu kemudian saling menuding salah. Mengganggap pendapatnya yang paling benar.

Ya, rupanya yang berantem gara-gara hilal maupun hisab 1 Ramadhan kurang cukup dengan masalah.

Kenapa hanya soal hilal dan hisab yang disoal? Kenapa bukan penentuan ramadhan versi iklan sirup yang sudah menyatakan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan” sejak sebulan lalu?

Bukankah puasa itu menahan haus dan lapar serta hawa nafsu? Kenapa jadi bernafsu banget dapetin minyak goreng yang lagi mahal?

Betul bahwa kerupuk tak bisa direbus, sama seperti es tidak bisa digoreng. Tidak salah memiliki keyakinan baik pakai hilal maupun hisab, jadi buat apa nafsu sekali saling menyalahkan?

Tapi ada juga yang bilang, puasa itu cuman siang hari malam juga wajib buka puasa dan disunnahkan sahur. Puasa juga wajib zakat fitrah dan banyak sedekah.

Kalau apa apa mahal namanya tidak memudahkan umat Islam untuk beribadah dengan khusyuk. Bukannya ibadah malah ngeluh kebutuhan pokok meroket. Bukannya happy sambut ramadhan malah jadi galau, gelisah dan ‘gedeg’. Yang mempersulit ummat beragama untuk beribadah dalam kitab suci disebut Iblis. Betul? dan Iblis harus dilawan, diusir!.

So terserah Anda mau berpikir seperti apa tentang banyaknya persoalan di negeri tercinta ini. Sah-sah saja. Sebab, pemikiran, ide, gagasan dan keyakinan sesungguhnya adalah hak pribadi. Namun yang pasti siapapun manusianya sesungguhnya menginginkan hidup itu damai. (*)

*Penulis adalah penggiat Forum Muda Lintas Iman Yogyakarta (Formuliyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.