Selasa, 14/09/2021 19:30 WIB | Dibaca: 139 kali

Temaram Senja di Bukit Rindu


ilustrasi

CERPEN: Aulia Syah

SENJA mulai merangkak ke puncaknya, ketika lampu-lampu jalan mulai nampak sorotnya. Aku masih melaju di jalanan yang telah akrab dengan roda sepeda motor tuaku. Bau asap knalpot masih terasa sama, meski hidung dan separuh wajahku tertutup masker. Pun dengan bising jalanan dan suara klakson yang terus merajuk di perempatan lampu merah, ketika kendaraan terdepan tak beranjak menekan gas. Orang-orang yang bermuka lelah nampak tak sabar ingin sampai ke rumahnya.

Senja memang selalu menyisakan cerita lelah anak manusia yang seharian berada di bawah terik. Aku juga lebih suka menikmati lelah ketika senja yang kemudian mengantarkanku ke sebuah rutinitas dimana seluruh organ tubuh sungguh termerdekakan. Dengan atau tanpa mimpi, setidaknya selama esok masih bisa bekerja. Aku masih bisa sedikit tersenyum karena masih bisa menjamin istri bisa ke warung untuk beli sembako dan anak bisa jajan. Tapi cerita di balik senja itu kemarin. Sekarang senja yang menawarkan ragam cerita tak lagi ku temui. Hari-hari di rumah saja, menjadi sebuah tirai yang memisahkan aku dengan motor tuaku, senja dan segala bising di jalanan.

Sebuah virus yang melanda dunia membuatku dan jutaan orang menjadi sakit. Sehat hanyalah sebuah keterpaksaan. Sebab, kalau toh tak terkena virus, pastilah terjangkit rasa seperti diasingkan. Aku dan jutaan warga di bumi pertiwi ini terpaksa sakit demi tetap bertahan hidup.

***

"Halo, apa kabar, semoga sehat selalu Bro," tulis seorang kawan dalam pesan whatsapp. dan seperti biasa ku jawab, "Sehat, semoga ente demikian juga." 

"Bagaimana keadaan di sana? semua sehat kan? kalau kondisi baik pulang tengok orang tua. ibu kangen cucu" kata ibu saat menelepon. Sama ketika siapapun menanyakan kabar dan kesehatan selalu ku jawab baik dan sehat. Sebab aku memang sesungguhnya benar-benar merasa harus selalu bilang sehat meski sesakit apapun!

Bagaimana sebuah virus merekayasa segala yang sudah tertata dengan baik di dunia? kenapa? adakah penawarnya? sampai kapan?. Semua tanya yang serupa tansah berkelindan di benakku di bayang temaram senja yang sepi. Ketika jeda melihat youtube atau bekerja dengan penuh kegelisahan di ruang yang sangat membosankan. Ya, ruang yang biasa kugunakan untuk bersantai kini menjadi ruang kerja yang sungguh membosankan.

Ku intip dari balik jendela senja yang mulau berangkat ke puncaknya. Sepertinya ia mendaki ke bukit-bukit awan yang tergambar seperti kumpulan karang terjal. Sejenak ia nampak memendar sebelum akhirnya benar benar sirna dalam sekejap. Ya, betapa senja kini benar-benar membuatku selalu gelisah di penghujungnya. Sebab, bukan lagi badan yang lelah lalu mengatarku untuk memerdekakan semua organ tubuh, melainkan pikiranku yang lelah sehingga membuat malam terasa panjang. Aku tak lagi bisa tersenyum membayangkan esok istriku tak ke warung membeli sembako, atau anakku yang tak lagi belajar di kelas tak bisa menikmati jajannya.

Mayang-mayang senja tak bisa sirna ketika gulitapun telah tiba. Aku tak tahu kapan melihat kembali senja yang menyiratkan anak-anak manusia dengan kelelahan, berpacu menuju ruang yang akan menjadikan organ tubuhnya termerdekakan. Aku benar-benar merindukan senja yang dulu. (*)

Yogyakarta, ujung senja, 13 September 2021

 

*Penulis adalah aktivis Forum Muda Lintas Iman Yogyakarta.

 


 





Baca Juga