Kilat Tanpa Suara yang Menghentak-Misteri Bangku Mbah Kunto Bagian 9

Cerita Horor
ilustrasi

Cerita Bersambung Oleh: Al Ghifari*

Malam kian mencekam. Gemuruh angin gunung memecah kesunyian. Suara senandung puji-pujian dari atas sudah tak lagi terdengar, menghilang seketika meninggalkan misteri.

Aku dan Nelson masih tak bisa berkata-kata. Tangan kami masih kaku memegang mangkok mie instant yang sudah dingin.

Aku mencoba menyingkirkan sedikit rasa takut dengan menyebut nama Tuhan. Ya, aku hampir tak melakukan ini sejak lama. Tepatnya, ketika aku selalu merasakan kegagalan dalam banyak hal.

Aku bahkan pernah menganggap Tuhan itu tak ada. Aku tak lagi taat pada-Nya. Aku menganggap Tuhan tak ingin mengabulkan apa yang menjadi harapan dan doaku. Kekecewaan bertubi-tubi ku alami.

Apa yang kerap aku perjuangkan, hasilnya selalu saja jauh dari ekpetasi. Aku selalu gagal, atau salah dalam melangkah.

Bahkan, pernah ku berpikir, bahwa berbuat apapun aku pasti keliru. Tak terhitung berapa kali aku tersungkur dalam persoalan yang benar-benar sama. Aku mencap diriku manusia paling bodoh.

Kata teman-teman, sebenarnya aku pintar, tapi kurang beruntung. Ya, Barangkali itu benar. Banyak hal yang aku kerjakan memang berbeda, bahkan kadang benar-benar baru, setidaknya belum banyak orang yang melakukannya. Aku kreatif inovatif kata Sebagian orang yang mengenalku, meski tak semuanya adalah teman.

Aku punya ide-ide yang out of the box, tapi justru orang lain yang bisa melaksanakan dengan baik dan mendapat keberuntungan.

Jiwaku terus meronta dan membantah, ketika seluruh manusia suci di bumi ini membisikkan kata-kata yang bagi pengagumnya menyejukkan. Bahkan, aku menyesal pernah mengagumi mereka.

Bagiku tidak benar jika semua orang pasti ada bagian yang tidak baik-baik saja, tetapi tidak selamanya hidup itu seperti itu. Pada kenyataannya aku terhenti dalam hari-hari yang selalu tidak baik-baik saja.

Aku merasa dilahirkan tidak sebagai manusia seutuhnya. Betapa tidak? Setiap hari aku hanya bernafas, beraktifitas untuk mencari makan, tidur lalu bangun dengan kegelisahan akan bagaimana hidup nanti. Persis, binatangpun hidup seperti itu.

Aku juga tak lagi percaya dengan doa-doa yang terucap dari mulut orang-orang yang seolah peduliu. Mereka mengatakan di lain hari semoga menjadi makna yang baru dan di lain hari semoga tidak menemukan keterpurukan seperti yang sudah-sudah.

Doa hanya kata-kata kosong. Sebab, hari-hariku adalah keterpurukan. Aku tak ingin berterimakasih kepada yang mendoakanku, apalagi membalas mendoakan agar mereka juga bernasib baik.

Apalagi bagi mereka yang seakan menabur semangat dan berucap,

“Hatimu boleh patah, matamu boleh basah, tapi kamu jangan pernah menyerah. Percayalah, pelan-pelan semuanya akan kembali baik-baik saja.”

Kata-kata penyemangat seperti itu juga hanya sampah bagiku. Justru karena aku selama ini terlalu percaya dengan keajaiban dan menjaga kesetiaan kepada mereka yang memberikan harapan palsu, membuatku seperti ini. Aku benar-benar menjelma menjadi sampah kehidupan. Pelan-pelan aku memang hanya akan membusuk menjadi bangkai yang tak berguna, bahkan mencemari tanah.

Bahagia bukan soal hidup yang sempurna, melainkan saat kita bisa menikmati dan mensyukuri sesuatu yang telah kita terima. Apalagi ungkapan seperti itu. Juatru karena dulu aku selalu bersykur, selalu berusaha berbuat baik dengan sesama, aku kini menjadi terpuruk. Taka da balasan dari manusia yang pernah menerima kebaikanku.

Aku tak pernah terdiagnosa sebagai manusia yang tak waras, sehingga tak bisa membedakan mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk. Aku juga bukan manusia tanpa keahlian. Aku justru terpuruk karena mensyukuri aku masih hidup meski selalu gagal, sial, dikhianati, disakiti dan dihina.

Ada pula yang menghardikku dengan mengatakan bahwa mungkin saja ambisiku yang terlalu tinggi diaduk dengan ketidaksabaran serta usahaku yang sebenarnya belum semaksimal mungkin.

Ambisi tinggi apa? Ambisiku sederhana, Ketika aku bekerja keras maka harapanku akan mendapatkan hasil yang baik. Aku bahkan tak punya ambisi yang muluk-muluk. Bahkan ambisiku hanya menjadi manusia yang berguna, bisa meringankan beban keluarga, sahabat dan orang-orang lemah. Tapi aku malah dilemahkan oleh mereka yang sering ku uluri tangan saat membutuhkan.

Hingga pada akhirnya aku memang merasa punya teman, setidaknya partner yang tepat, setelah menjadi akrab dengan Nelson. Kami memang satu kampus, tapi jarang sekali bertegur sapa. Nelson bukanlah type orang yang supel dan pandai bergaul.

Kata orang dia sangat egois. Aku pikir aku tak akan cocok berpartner dengan dia ketika ada tugas akhir membuat film dokumenter di desa seberang Bukit. Namun ternyata hasilnya sangat memuaskan, bahkan terbaik.

Aku bukanlah type orang mudah curhat, namun entah kenapa suatu Ketika Nelson mengatakan sesuatu, yang sebenarnya itu bukan ditujuakn padauk. Itu sepenggal script film documenter yang dibuat di desa seberang bukit.

“Semua ada waktunya, jangan membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Tidak ada perbandingan antara matahari dan bulan, mereka bersinar saat waktunya tiba”. Aku cukup tercengang mendengar ia mengucapkan kata-kata itu.

Kemudian, iapun membaca kalimat lain yang tak kalah membuatku tertegun dan berpikir tentang hidupku yang kerap dikecewakan orang-orang di sekelilingku.

“Kita tak pernah bertemu dengan orang yang salah, hanya saja ada yang menjadi teman, ada juga yang menjadi pelajaran.” Begitu luar biasanya kata-kata itu, sehingga terasa menusuk jantungku.

Perjalanan panjangku mencari ketenangan jiwa memang seperti aku dapatkan di Desa Seberang bukit. Bukan di rimba raya kota yang penuh kehingar bingaran.

Memang aku jauh lebih baik, sekembalinya dari desa seberang bukit itu. Aku mulai menemukan keberuntungan-keberuntungan. Tak hanya soal akademik, bahkan aku dan Nelson diberi jalan untuk memproduksi film-film pendek oleh sebuah rumah produksi yang cukup terkenal. Artinya aku sudah menemukan apa yang selama ini aku gelisahkan, mau jadi apa dan kerja apa setelah selesai kuliah nanti.

Meski begitu, aku masih enggan mengucap terimakasih kepada Tuhan. Baru kali ini di tengah ketakutan teramat sangat yang baru pertama kali ku rasakan, aku teringat Tuhan. Berkali-kali aku berdoa agar rasa takutku bisa mereda. Memang benar, gema nama tuhan di dalam relung batinku benar – benar mampu menghadirkan ketenangan.

“Itu mungkin mbah Kunto sudah pulang ke rumah,” kataku kepada nelson.

“Iya Jay,” jawabnya setengah berbisik.

“Lalu bagaimana? Apa kita ke sana sekarang, Jay?” Sambung Nelson.

“Jangan, besok pagi saja. Kurang sopan bertamu malam-malam,” jawabku.

“Okelah kalau begitu,” kata nelson tanpa membantah.

Sekali lagi, terdengar suara senandung yang sama ku dengar beberap jam lalu, dari puncak. Serempak aku dan nelson menumpahkan mie instan dalam mangkok. Sebab tak hanya suara yang kami dengar, melainkan dari balik tenda seperti ada sinar seperti kilat melesat ke dalam tenda. Sinar itu hanya sekejap mata yanpa suara, namun nyata.

Tubuhku menggigil. Itu bukan karena hawa dingin yang menusuk tulang. Kali ini, rasanya juga bukan ketakutan, entah perasaan apa yang ku rasakan, tiba-tiba aku merasa sedih. (bersambung).

*Penulis adalah penggiat forum penulis Kata Mata Pena Jogja (Komunitas penulis binaan jogjakartanews.com)

 

55 / 100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.