Berhaji Belajar Mencintai

Mochlasin Sofyan
Mochlasin Sofyan. Foto"dok.Pribadi

Oleh: Mochlasin Sofyan*

Awal kehidupan dunia manusia ini diawali dengan konsep cinta. Saat malaikat protes kepada Allah SWT akan dampak ciptaan manusia, Allah menegaskan inni a’lam ma la ta’lamun (Aku lebih tahu dari apa-apa yang tidak kamu ketahui). Pernyataan itu bentuk jawaban khas dari cinta, bersifat privat dan penuh harap tiada terganti. Suatu keinginan memberi tidak mengharap kembali. Demikian juga kehidupan dunia ini, akan berjalan harmoni dan damai bila beraraskan cinta.

Cinta sebenarnya muncul secara alami pada diri setiap manusia. Cinta terhadap lawan jenis, harta benda, anak keturunan, pangkat dan kekuasaan adalah naluriah tidak perlu telaah. Tentu tulisan ini tidak akan memperdebatkan perihal itu.

Ibadah haji sebagai sebagai pilar kelima dalam beragama, banyak mengisahkan pelajaran cinta hakiki. Haji adalah bentangan filosofi cinta ilahi dengan aktor utama Nabi Adam a.s., Sayyidah Hawa, Ibrahim a.s., Ismail a.s., Sayyidah Sarrah dan simbol cinta tak terganti Sayyidah Hajar.

Ritual haji tidak hanya sekedar penghayatan terhadap para aktor, tetapi sesungguhnya implentasi dari cinta itu sendiri. Seorang jamaah haji bersedia mendaftar, menunggu keberangkatan, manasik serta mengikuti berbagai prosedur administrasi, dikarenakan ada cinta yang menggerakkan.

Makna Cinta

Dalam buku al hubb fi al-Qur’an, Dr. Mahmud bin As-Syarif memaknai cinta sebagai ekspresi dari perasaan hati yang bergejolak dan menggelora tatkala kerinduan menghampiri. Cinta Juga merupakan hasrat yang kuat untuk berjumpa dengan sang kekasih yang dirindukan. Dalam ungkapan gaul, cinta dinarasikan sebagai Cerita Indah dan Nyata Tiada Akhir.

Dikarenakan muhimnya masalah cinta dalam kehidupan ini, tidak mengherankan jika terulang sebanyak 62 kali dalam al-Qur’an dengan bentuk dan makna yang bervariasi. Al-Qur’an menyebut kata cinta dengan istilah hubb yang terambil dari akar kata habba-yahubbu. Secara general, kata hubb sering diartikan sebagai cinta. Akan tetapi, al-Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufradat fi Gharib al-Quran, berpandangan bahwa kata hubb memiliki beberapa makna yang di antaranya menyukai sesuatu secara mendalam dan keberatan kehilangan terhadap yang disukainya.

Taburan ayat-ayat cinta dalam al-Qur’an secara kontradiktif bertutur dalam dua kutub yang berlawanan. Tipikal pertama, bicara tentang cinta duniawi yang melalaikan teradap cintanya sang Pencipta. Hal itu dapat terbaca pada surat Shaad ayat 32 yang mengisahkan kecintaan Nabi Sulaiman menyaksikan kuda-kuda pilihan yang tengah berlatih. Kecintaannya yang mendalam, telah mengorbankan hari-harinya untuk beribadah kepada Allah.
Tipikal cinta kedua, sebagaimana digambarkan dalam surat al-Hujurat ayat 7, adalah cinta yang dirahmati oleh ilahi robbi. Cinta ini mewujud dalam keimanan sehingga memunculkan rasa tidak suka terhadap kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan ( ‘ishyan). Al-Qur’an menyebut tipikal cinta ini, sebagai orang-orang yang berada pada jalan lurus ( ash-shirath al-mustaqim)

Pelajaran Cinta Hakiki

Ritual haji mengajarkan tentang hakekat cinta spiritual, sebuah tingkatan cinta tertinggi ( arfa’ ad-darajah). Kategori cinta ini melampaui ( beyond) rasa dan rasio manusia. Kisah kehidupan Ibrahim a.s., Sayyidah Hajar dan Ismail a.s., akan menimbulkan kepiluan dan menguras air mata bagi para pembacanya. Tuhan tengah mengajarkan lewat panggung kehidupan mereka, tentang cinta sejati yang bercitra unggul. Hakekat cinta spiritual ini memiliki tiga bagian yang merupakan core of the core, yaitu keyakinan, kepatuhan dan kepasrahan.

Keyakinan adalah kondisi tiada keraguan ( syakk) terhadap sesuatu. Dalam dunia sufistik, keyakinan memiliki tiga tingkatan ( thabaqah) yaitu ‘ilmul yaqin, ‘ainul yaqin dan tingkatan tertinggi disebut haqqul yaqin. Haqqul yakin adalah keyakinan seorang hamba yang telah melebur ( fana’) dengan frekuensi ilahiyah.

Perintah Allah terhadap Ibrahim a.s. Untuk menyembelih putranya lewat mimpi adalah perintah di luar rasa dan rasio. Kisah itu diabadikan dalam surat ash-Shoffat ayat 102: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Lempar jamarat adalah napak tilas atas keyakinan sepenuh raga-jiwa ( haqqul yaqin) Nabiyuna Ibrahim a.s. atas perintah suci Allah SWT.

Cinta Nabi Ibrahim kepada Allah yang didasarkan pada keyakinan kuat, memberikan kemulyaan dengan digantinya Ismail remaja berupa hewan domba. Konon domba pengganti Ismail adalah domba terbaik yang pernah dikurbankan putra Adam a.s., Habil. Peristiwa itu memberi pelajaran, tentang larangan pengurbanan manusia atas manusia yang sering dipraktikkan waktu itu.

Ritual pelemparan kerikil pada jumrah ula, wustho dan aqabah, adalah pelajaran bagi jamaah haji untuk menepikan segala godaan yang dapat mengganggu keyakinan. Keyakinan yang berubah pada keraguan, akan mengancam keberadaan cinta hakiki.

Inti cinta sejati kedua adalah ketaatan, hal itu ditunjukkan oleh Ismail a.s. pada kesediaannya untuk disembelih. Taat adalah sebuah sikap patuh dengan bersedia melakukan sesuatu yang di perintahkan tanpa membangkang. Ketaatan totalitas Ismail a.s. diabadikan al-Qur’an surat ash-Shoffat dengan ungkapan “wahai ayahku kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah.”

Allah mengingatkan, apabila manusia dengan sekuat tenaga mentaati Allah dan Rasulnya, maka Allah akan memberikan rahmatnya (Ali Imron:132). Rahmat Allah bisa terjadi di dunia ini, maupun kelak di akhirat. Secara spesifik, rahmat bisa bermakna kasih sayang, rizki, petunjuk dan balasan surga. Perjalanan heroik dalam ritual haji dari tenda Mina ke Jamarat, adalah memaknai ketaatan Ismail kepada perintah Allah.

Inti cinta spiritual berikutnya adalah kepasrahan. Kepasrahan adalah senantiasa memberikan semua yg dimiliki kepada orang yang membutuhkan. Pengorbanan itu bisa berupa waktu, tenaga, harta bahkan jiwa. Kepasrahan Juga berarti tidak pernah mengeluh tentang apa yang dimiliki karena Allah.

Kepasrahan dalam rangkaian ritual haji, ditunjukkan atas kesediaan Sayyidah Hajar dengan putranya Ismail untuk ditinggalkan. Seorang ibu dengan bayinya serta sejuta asa di hatinya, dipisahkan di bukit batu tandus tak bertepi. Tentu tidak ada kata yang mampu melukiskan perpisahan itu, kecuali air mata. Pertemuan karena kehendak Allah, demikian juga perpisahan. Sayyidah Hajar menerima semua penuh kepasrahan, karena inilah perintah suci. Dan Inilah kekutan cinta ilahi.

Kepasrahan karena cinta ilahi, tidak memadamkan tapi menggelorakan asa. Dengan keterbatasan daya, ia berlari-lari bolak-balik dari bukit Shofa ke Marwa mencari air untuk memberikan kehidupan bagi putranya. Dalam ibadah haji, peristiwa itu diabadikan dalam ritual sa’i. Sa’i berasal dari kata sa’a-yas’a-sa’yan yang berarti usaha fisik.

Saat kepasrahan Hajar sempat membuncah, Allah membalas cintanya dengan memancarkan air dari hentakan kaki Ismail kecil. Zam-zam, kini menjadi mata air kehidupan dan spiritual yang tidak pernah kering. Inilah kepasrahan yang dalam al-Qur’an disebut dengan tawakkul. Barang siapa bertawakal pada Allah, maka Dia akan mencukupi segala kebutuhan dan urusannya (ath-Thalaq:3).

Ikhtitam

Seseorang yang sedang menunaikan ibadah haji, sejatinya sedang berperan untuk meninggalkan cinta relatifnya yaitu cintanya kepada anak, harta, jabatan, kududukan, kendaraan dan nafsu seksual. Sebagai penanda, mereka diwajibkan mengenakan pakaian putih tidak berjahit seperti pakaian saat kelak ajal datang. Ritual tersebut sebagai media untuk meraih cinta mutlak, cinta pada ilahi robbi.

Saat maqam cinta sejati diraih, maka Allah akan segera membalasnya sebagaima dijanjikan dalam surat Ali Imron ayat 32. Maqam ini mewujud dalam leburan keyakinan, ketaatan dan kepasrahan sebagaimana ditamsilkan para aktor ritual haji. Kemabruran sejatinya meningkatnya tiga unsur tersebut dalam kehidupan seorang haji. (*)

Masjidil Haram Gate 100, 18 Juli 2022

*Penulis adalah Jamaah Haji SOC 21 KBIH AISYIYAH Sleman

 

58 / 100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com