Jumat, 30/01/2015 21:21 WIB | Dibaca: 3602 kali

Luruskan Sejarah, Tokoh GAM Terbitkan Buku


Launching buku 'Dari Rimba Aceh ke Stockholm'. Foto: Aristianto

JAKARTA – Perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sesungguhnya bentuk perlawanan rakyat Aceh atas ketidak adilan pemerintah pusat. Rakyat Aceh ingin merdeka dari kesewenang-wenangan pemerintah pusat yang mengeksploitasi Aceh untuk kepentingan segelintir penguasa. Namun selama ini informasi yang tersebar kepada masyarakat Indonesia, GAM adalah pemberontakan beberapa tokoh Aceh yang telah disusupi bangsa asing.

Untuk meluruskan catatan sejarah yang keliru tersebut, tokoh GAM, Dr. Husaini M. Hasan, S.POG menulis buku berjudul ‘Dari Rimba Aceh ke Stockholm’. Buku tersebut merupakan Autobiography penulis sebagai pelaku sejarah Aceh Merdeka pada tahun 1976 hingga di luar negeri. Buku ini dibagi dalam 9 bagian.

Menurut Husaini, sejarah perjuangan Aceh Merdeka yang telah diputar-balikkan oleh teman-teman seperjuangan yang tidak bertanggung jawab demi kekuasaan dan pundi-pundi pribadi.

“Buku ini menghapus fitnah terhadap saya serta mewakili teman-teman seperjuangan setia yang telah ikut difitnah dan dijadikan kambing hitam oleh sekelompok teman seperjuangan yang telah mengabaikan dan tidak menghargai perjuangan Aceh Merdeka, yang sebenarnya adalah perjuangan semua rakyat Aceh yang terlibat dalam perjuangan ini,” ungkap Husaini saat bedah buku sekaligus launching buku di Hotel Borobudur Jakarta, Ball Room Flores, Kamis (29/01/2015) malam kemarin.

Husaini menyatakan, Perjuangan pembebasan Aceh direncanakan dengan sistematis, sehingga hendaknya patron ini digunakan dalam membangun Aceh pasca mendapatkan
self-governing (otonomi khusus). Patron perjuangan yang telah dirintis dan diciptakan oleh pendiri
GAM, kata dia, harus dilakukan re-arrangement (proses penyesuaian ulang) sehingga sesuai dengan kebutuhan sekarang, dengan tetap bertumpu pada semangat pola gerakan sebagai sumbu utama untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat Aceh.

“Buku ini salah satu I’tibar untuk bergerak maju meski dalam keaadaan sulit. Merancang ulang tujuan jangka panjang Aceh di era otonomi khusus,” kata orang kepercayaan panglima GAM, Tengku. Hasan M. di Tiro ini.

Kepada seluruh elemen masyarakat Aceh di dalam dan luar Aceh, Husaini berpesan agar selalu bekerjasama mencurahkan tenaga dan pikiran untuk membangun Aceh, mengembalikan marwah Aceh sebagai serambi mekkah dan menjadikan Aceh sebagai sebuah negeri yang aman sejahtera, hidup damai dan bahagia baldatun thayyibah wa rabbun ghaffur.

“Kepada kawan-kawan mantan GAM 76 dan adik-adik serta anak/anak kami mantan GAM generasi kedua agar bersatu padu mengingat bahwa kita semuanya adalah anak rakyat. Perjuangan kita adalah untuk rakyat, untuk kita semua. Seperti dalam moto Hudep beusare mate beusadjan” kata tokoh GAM yang selama 30 tahun tinggal di Swedia, 3 tahun di Malaysia, dan 3 tahun di Australia ini.

Dalam kesempatan launching Husaini juga mengucapkan terimakasih kepada peserta yang hadir. Ia mengaku merasa terhormat dengan kehadiran peserta launching.

“Atas penghargaan dan kerjasama yang baik antara kita semua, kita harapkan dapat mencipta suatu lingkungan masyarakat yang aman damai demi kelangsungan hidup masyarakat yang adil dan makmur di kawasan Nusantara (Indonesia) serta didunia pada umumnya” kata Husaini yang selama 2 tahun terakhir ini pulang-pergi ke Indonesia untuk bertemu kembali dengan teman-teman lamanya. (lia)

Redaktur: Aristianto

Berita Terkait

 





Baca Juga