Minggu, 12/11/2017 09:43 WIB

Maafkan Kami Ayahanda Lafran Pane

Oleh: Fefin Dwi S*   Sekadar berandai-andai, Barangkali Kau tak pernah mau diberi gelar pahlawan nasional Sebab smasa hidup Kau sendiri enggan disebut pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tapi maafkan kami Ayahanda Lafran Pane Kami telah membuatmu dikenal Indonesia, bahkan dunia Meski kami tahu Kau tak suka narsis, publisitas pribadi dan pencitraan Maafkan kami Ayahanda Lafran Pane, Kami mensyukuri gelar pahlawan nasionalmu dengan megah Padahal...
Minggu, 15/10/2017 15:41 WIB

Petruk Tak Terpuji Lagi

SETIAP peristiwa dalam hidup manusia menyiratkan sejarahnya sendiri.  Tak terkecuali dengan kepergian-kepergian sesuatu yang pernah kita miliki atau kepergian seseorang ke alam fana yang menjadi misteri Sang Pencipta.  Hal itulah salah satu dari sekian samudera makna dalam puisi Ki H. Ashad Kusuma Djaya, berikut ini: Petruk Tak Terpuji Lagi (Mengenang Ragil Suwarna Pragolapati) Oleh: Ashad...
Senin, 02/10/2017 14:57 WIB

Puisi Zaman Telah Berubah, Potret Ironi Bangsa

ADALAH sebuah keprihatinan, ketika zaman dimana manusia saat ini sudah mengagungkan materi. Ketika pemimpin telah membiarkan kedaulatan bangsanya digerus kapitalisme global. Fenomena dimana manusia modern telah menjauh dari ajaran agama dan budaya luhur bangsanya sendiri, menjadi keprihatinan akademisi, sekaligus sastrawan Dr. Mastur Toyib, M.Pd.I, MM alias MT Al Kendali. Alumni IKIP Yogyakarta yang kini menjadi...
Minggu, 18/10/2015 17:15 WIB

Bagong Nyalon Ketum PB Punakawan

Oleh: Ja’faruddin AS* Al kisah, Bagong iri dengan saudaranya Petruk, yang pernah jadi Raja. Akhirnya, saat ada Kongres Persatuan Massa Punakawan  (PMP) Bagong bertekad maju menjadi Ketua Umum Pengurus Besar PMP (Ketum PB-PMP). Bagong membatin, sebelum jadi  Ratu  seperti Petruk, Minimal belajar jadi Ketum PB PMP dulu. Meski selama ini mengkritik habis Petruk di Media Sosial (Medsos),...
Jumat, 16/10/2015 13:33 WIB

Air Mata Mutiara

Cerpen: Shofwatul Khairiyah* Wajahnya mempesona. Matanya memancarkan aura kecantikan natural. Pipinya merah merona. Putih kulitnya membuatku lunglai dengan balutan Jilbabnya yang menjuntai. Keindahan fisiknya sama sekali tak terumbar. Lekuk tubuhnya tertutupi selendang yang tergerai. Menghipnotis akal sehatku menjadi ganar. Teramat indah dan tak bisa ku urai. Di hari-harinya tak kulihat ada pesona fisik yang menelisik. Melumpuhkan segenap...
Selasa, 13/10/2015 13:45 WIB

Buruh - Buruh Ningrat

Cerpen: Ja’faruddin AS* TANGAN-TANGAN kurus dengan belulang menyembul, mata yang cekung, menggambarkan betapa menderitanya dia. Seolah menjadi sempurna nestapa itu ketika kini dia berada di ruangan interogasi Polisi Pamong Praja. Dalam gemetar antara lapar, sakit, dan takut, di tengah petugas yang bertampang  tegas.  Terbayang, dengan garang mereka menyeretnya dari tepi jalanan, tempat Si Kurus itu menaruh...
Sabtu, 12/09/2015 00:32 WIB

Meneladani Pangeran Benawa, Tinggalkan Takhta Demi Stabilitas Negara

BERKACA pada sejarah masa silam, banyak pemimpin-pemimpin yang sebenarnya layak untuk dicontoh keberhasilannya dalam mengatasi krisis seperti yang dialami Bangsa Indonesi saat ini. Para pemimpin itu telah lahir sebelum Indonesia merdeka, bahkan pra penjajahan. Namun, nampaknya suri tauladan inilah yang tak lagi diindahkan oleh para pemimpin bangsa ini, sehingga laksana tak ada lagi jejak-jejak bangsa...
Kamis, 10/09/2015 20:58 WIB

Manifestasi Kesunyian

AKU tahu, bahwa dipenghujung malam dia akan berhenti mencatat riwayat tentang kita yang sebelumnya terang-benderang. Dia akan berhenti, seperti berhentinya pelangi melengkungi sebuah negeri setelah hujan. Dan pagi itu. “Lu, kamu sholat subuh dulu” Begitu smsnya, ketika aku dan dia terpaksa menjemput pagi dalam sebuah jarak yang tak terhitung. Dia, sahabatku Nisa yang sekarat di sebuah rumah sakit di...
Minggu, 30/08/2015 20:40 WIB

Di Penghujung November

BUKU KECIL bersampul tebal berwarna krem pucat, sebuah nama tertera diatasnya Haruki Murakami. Aku tidak terlalu menyukainya, karena ia terlalu banyak menulis tentang senja, tapi aku tertarik membaca keburaman-keburaman pikirannya. Terutama tentang cinta. Di dunia nyata, beberapa penyair sering mengatakan bahwa Cinta tidak membutuhkan alasan, sebab cinta itu sendiri adalah alasannya. Ironisnya, ketidakbutuhan cinta akan alasan...

Halaman : 1 2 3 4